Arsip Blog

Kultwit Arya Sandiyudha tentang Peran Rohis/LDK

Image

1.  Semalam, sy tidak nonton Todays Dialogue ust @anismatta. Sebab nemani Revo nonton kartun “Rio” di saluran lain

2.  Mungkin, ada yang mau murah hati ulang kutipan2 uraian ust@anismatta semalam? Tapi sy sendiri mau tanggapi tema tsb

3.  Menurut Sy ragam ulasan bertema “parpol Islam” tak lain pengulangan2 sederhana yang berdiri di atas persepsi “Islam” di akar rumput

4.  Utamanya sekali “Islam” yang ter’parsial’kan dalam benak masyarakat. Sebabnya bisa personal, kultural, atau struktural

5.  Ambil contoh siswa baru di SMA. Ada tuips yang SMA? Mereka daftar Rohis (Rohani Islam) alasannya apa? Itulah persepsi siswa tentang Islam

6.  Ternyata setelah masuk Rohis, persepsi sebelum memasukinya banyak berbeda dengan apa yang diajarkannya. Sebabnya?

7.  Sebabnya pengurus Rohis mengajarkan Islam itu “Syamil, Kamil, Mutakamil” komprehensif, sempurna, dan saling menyempurna… Tapi?

8.  Yang dilihat oleh siswa baru di SMA, Ketua Rohis mereka “hanya” bertugas memimpin do’a saat upacara bendera.. Jadi?

9.  Jadi dalam persepsi publik SMA “Islam” itu terdistorsi peran2 pengurus Rohis. Oh, kalau mau jadi “pemimpin umum”, jangan masuk Rohis!

10.  Dulu, saya awalnya bangga kalo Ketua Rohis itu diundang acara banyak ekskul. Tapi ternyata untuk peran yang sama: baca do’a penutup

11.  Lalu Rohis menyederhanakan masalah persepsi itu dengan cara mengirimkan anggota2nya aktif di OSIS. Ternyata?

12.  Anggota/Ketua OSIS yang berasal dari Rohis biasany ‘berubah’ identitas. Sebagianny malah ‘malu2′ ketahuan Rohis

13.  Fenomena serupa semacam ini kmudian terjadi di level kampus. LDK ‘dilokalisasi’ mengambil peran2 terbatas & parsial

14.  wajah “Islam” di kampus itu sangat dipengaruhi bagaimana Lembaga Da’wah Kampus (LDK) mengejawantah program2nya..

15.  Kemudian anggota2 LDK juga kemudian “malu2″ mengakui identitas/perilaku ke”Islam”an-nya ketika sudah masuk ke UKM atau BEM

Read the rest of this entry

“Yen Agal Ngungkuli Watu, Yen Alus Ngungkuli Banyu”

Oleh : Ustadz Cahyadi Takariawan

sumber : okipetruslaoh.blogspot.com

Masyarakat Jawa, sebagaimana masyarakat suku lainnya, memiliki tata cara kehidupan dan budaya yang khas. Akan lebih tepat bagi para aktivis dakwah yang melakukan kegiatan dakwah untuk masyarakat Jawa, apabila mengetahui berbagai budaya yang mereka miliki. Ajaran hidup dan budaya masyarakat Jawa, sudah banyak diungkapkan dalam bentuk pitutur luhur atau pepatah dan kalimat hikmah.

Pada kesempatan kali ini, kita mencoba mempelajari satu pitutur luhur yang menggambarkan watak rata-rata masyarakat Jawa. Pitutur itu berbunyi, “Yen Agal Ngungkuli Watu Yen Alus Ngungkuli Banyu”.

Makna Pitutur

Pepatah di atas secara harfiah bermakna, apabila keras (kasar) melebihi batu dan apabila halus (lembut) melebihi air.

Secara spesifik sebenarnya pepatah ini mengacu atau diacukan pada perwatakan umum para ksatria Pendawa yang dalam konteks tertentu sering diibaratkan sebagai perwatakan orang Jawa. Secara umum, para ksatria Pendawa jika keluar watak keras atau kasarnya akan bisa menjadi sangat keras seperti batu atau bahkan kasar melebihi apa pun. Demikian pula jika keluar watak lembut atau halusnya, bisa sangat halus melebihi air. Sikap itu dipengaruhi oleh stimulan atau faktor-faktor luar yang menyebabkannya menjadi demikian.

Dicontohkan bahwa apabila para ksatria Pendawa diperlakukan dengan lembut, maka ia akan membalas perlakuan tersebut jauh lebih lembut lagi. Akan tetapi bila diperlakukan dengan kasar atau jahat, ia akan bisa membalas dengan lebih kasar atau jahat lagi.

Pepatah ini secara umum sebenarnya ingin menggambarkan dua sisi sifat manusia yang saling bertolak belakang. Manusia itu jika keluar sifat kasar, keras, amarah, nafsu angkara murkanya bisa sangat kasar atau sangat keras. Namun bila yang keluar adalah sifat atau watak halusnya, maka kehalusannya bisa melebihi halus atau lembutnya air.

Read the rest of this entry

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

"MAS GURU"

Gurumu Sahabatmu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

"MAS GURU"

Gurumu Sahabatmu