Catatan Selepas Senja (eps.1) Awoal Kehidupan PPG Bermula (Kehidupan di Asrama PPG SM3T UNY)

(Catatan Kecil tentang Kehidupan asrama PPG SM3T UNY Angkatan III, ditulis di lantai 3)

Pembukaan PPG SM-3T

Pembukaan PPG SM-3T UNY Angkatan III

 

Jeda menganggur yang hampir setengah tahun membuat bimbang alumni SM3T. Waktu yang sangat tanggung untuk bekerja secara formal di sekolah. Jikapun ada yang mengajar di sekolah, bisanya hanya menjadi guru pengganti ataupun punya perjanjian khusus dengan sekolah bersangkutan bahwa mereka hanya sebentar saja mengabdi di sekolah tersebut. Beberapa diantaranya menjadi pertapa yang mendalami ilmu CPNSan yang sebagian daripadanya berhasil lolos seleksi. Sebagian juga dari mereka tiba-tiba menjadi backpacker, goweser, fotografer, iciper kuliner, blogger, dan traveller garis keras. Sebagian lagi mendadak beriwrausaha. Sebagian lagi pasrah menjadi penatalaksana rumah tangga, membantu ayah dan bunda mengepel, nyuci, dan nyetrika. Dan sebagian lagi-mungkin yang paling banyak- berubah profesi menjadi pengacara a.k.a pengangguran banyak acara, hehehe.

5 bulan bukanlah waktu yang pendek untuk menunggu. Alumni SM3T yang kebanyakan mengalami kegalauan tingkat akut menyambut dengan ceria saat dibuka pendaftaran PPG SM3T pada akhir bulan Februari. Rautan emosi dan gelisah yang ditampilkan air muka sejak awal tahun karena ketidakpastian pendaftaran, kini berubah menjadi luapan gairah nan sumringah. Semua menyambut dengan gembira, mengingatkan lagu pemilu Orde Baru. Bernada riang, bertempo cepat dan bersemangat.

Read the rest of this entry

Pantai Menganti : An Unexpected Journey

Lomba Blog Visit Jawa Tengah

Lomba Blog Visit Jawa Tengah

Pantai Menganti dilihat dari atas

Secara tidak sengaja aku bertemu Imam Aji Subagyo alias Aji di Kantor Pos kebumen. Ngobrol basa-basi kesana kemari, menanyakan kabar tentang kegiatan apa saja yang dilakukan pengacara semacam kami (Pengacara: pengangguran banyak acara). Rentang antara kepulangan SM-3T angkatan III pada bulan september sampai persiapan PPG pada bulan Februari membuat kebingungan para kombatan SM3T Malinau. Mengajar di sekolah tentu tidak mungkin. Tidak mungkin kami mengajar 1 semester saja, kecuali kalau hanya sekedar menambal sebagai guru pengganti temporer. Sebagian jadi pengeles (orang yang memberikan les privat di bimbel), sebagian mencoba berwirausaha, dan sisanya menjadi tukang dolan seperti aku. Iseng-iseng kuajak dia ke Pantai Menganti, obyek wisata yang menjadi trending topic di daerah berplat AA dan R dan kini mulai terkenal ke seluruh nusantara.

Setelah beberapa waktu yang lalu menjelajah Bandung, Ungaran, dan sebagian pulau Sumatra, kini saatnya menjelajah obyek wisata lokal. Oke, kita persingkat saja. Setelah beberapa lama aku malah melupakann rencana ke Menganti, tiba tiba interaksi di grup WA (WhatsApp) memunculkan nama Menganti. Aji langsung mengingatkan aku tentang Menganti, dan langsung ku OK kan saja. Hari itu selasa sore. Dan rencananya hari kamis kami berangkat. Tiba-tiba Sukron mengusulkan langsung hari Rabu pagi harinya saja. setelah bernegoisasi secara alot kamipun memutuskan Rabu pagi setelah subuh langsung check out ke Menganti. Aku dan Aji yang berjarak jauh dari Menganti harus berangkat subuh-subuh demi melihat sunlight, eh sunrise di Menganti. Aku berada di Kutowinangun dan Aji berada di Mirit yang berada di sebelah timur Kabupaten Kebumen. Menganti berada di sebelah barat kabupaten Kebumen, dekat perbatasan kabupaten Cilacap. Sukron sendiri berada di kecamatan Ayah, dekat dari pantai Menganti yang berada di kecamatan Buayan. Rencananya Aji yang akan menghampiriku agar tidak usah membawa motor terlalu banyak.

Pagi harinya, aku terbangun jam 4 subuh. Alarm yang disetting keras-keras membangunkanku. Langsung aku memberi pesan di WA untuk mereka berdua. Setengah jam kunanti tidak kunjung ada balasan. Pasti mereka belum bangun. Jam 5 kurang 5 menit Aji membalas WA ku. Setelah kuhitung-hitung, terlalu lama waktu yang digunakan jika dia memutar dulu ke rumahku, maka disepakati kita bertemu di depan kantor Camat Ambal. Motor kukeluarkan, kupanaskan dan terakhir kulihat indikator bensin. Ternyata jarum sudah menunjuk ke strip merah. Aduh, akhirnya aku harus memutar dulu ke Pom Bensin Kutowinangun dulu. Jam 5.30 aku baru sampai kantor camat Ambal. Sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi melihat sunrise. Tapi karena sudah kadung berangkat, kita tetap beangkat. Sementara itu Sukron baru membalas WA, menanyakan posisi kami.

Aku dan Aji segera menggeber motor masing-masing agar tidak kesiangan sampai kesana. Setelah pantai Suwuk, jalan mulai menanjak. Adikku berpesan agar berhati-hati saat menuju Pantai Menganti karena jalanan yang ekstrem, curam, berkelok-kelok dan sempit. Benar saja, di beberapa titik kujumpai jalan seperti ini. Konsentrasi, mesin, dan rem harus dalam kondisi prima agar dapat menaklukan jalanan ini. Beberapa kali kami berpapasan dengan motor dan mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Kita harus sangat berhati-hati jika berpapasan dengan kendaraan lain. Setelah sekitar 15 menit berkelak-kelok di jalanan, akhirnya kami menemukan gerbang pintu masuk Menganti. Belum ada penjaga di gerbang tersebut sehingga kami dapat masuk secara gratis. Kalau sudah ada petugas, maka setiap pengunjung wajib membayar 2.000 rupiah untuk dapat masuk ke Pantai Menganti. Selepas gerbang masuk terlihatlah Sukron yang sudah menunggu kami.

Sukron kini berada di depan rombongan. Dia meminta kami berhati-hati karena jalanan masih ekstrem. Benar saja, jalanan dari pintu gerbang sampai ke pantai sangat curam. Kami terus berhati-hati mengendarai motor. Untungnya jalanan sudah diaspal mulus sehingga tidak menambah beratnya perjalanan.

Untuk pertamakalinya aku bisa berkunjung ke Pantai Menganti. Pantai ini terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Buayan. Konon menurut cerita dari shahibul hayat, ‘Menganti’ berasal dari kata menanti. Begini kisah selengkapnya. Ada seorang panglima perang kerjaan Majapahit melarikan diri ke pesisir selatan Jawadwipa karena hubungannya dengan pujaan hati tak direstui raja. Mereka berjanji bertemu di tepi samudra berpasir putih nan indah. Sepanjang hari, sang panglima pun terus menanti pujaan hati yang ternyata tak kunjung tiba di atas bukit kapur sambil menanti dan terus menanti. Nah begitulah kisahnya. Terlepas betul tidaknya cerita tersebut, itulah satu-satunya sumber yang tersedia tentang asal muasal kata ‘Menganti’.

Setelah 5 menit berlalu, Alhamdulillah sampailah kami ke pantai Menganti. Tidak salah seperti yang dikatakan banyak orang, pantai ini sangat mempesona, amazing dan wonderful. Hamparan pasir putih terbentang. Sangat jarang kita menjumpai pantai pasir putih di Pulau Jawa. Kemungkinan besar pasir putih ini berasal dari batuan gamping atau terumbu karang yang terseret ke darat. Di atasnya menjulang pegunungan karst yang masih merupakan rangkaian kawasan karst karangbolong atau Karst Gombong Selatan.

Jpeg

Batuan karang

Jpeg

Pemandangan eksotis seperti di Bali

Setelah sampai di tepian pantai Menganti, kami diajak Sukron menuju ke tebing di sisi atimur. Tebing ini berada di tanjung kecil yang bernama Tanjung Karangboto. Di tanjung sempit ini terdapat mercusuar peninggalan Belanda yang dibuat tahun 1900an. Kami tidak tahu apakah mercusuar itu masih berfungsi atau tidak. Tangga yang berada di mercusuar tersebut rusak sehinga kami tidak bisa menaikinya. Di sebelah barat tanjung Karangboto terbentanglah sebuah pantai kecil yang masih masuk kawasan Pantai Menganti. Pantai itu bernama pantai Karangboto. Jika Menganti berpasir putih maka disini yang kita jumpai adalah batuan keras berwarna kehitam hitaman, bertumpuk tumpuk membentuk kolom batuan.

Jpeg

Di atas Tanjung Karangboto

Aku agak terkejut melihat penampakan batuan yang berbeda dari batuan di sekitarnya. Tidak salah lagi, batuan tersebut masuk golongan batuan beku. Itu artinya daerah ini pada dulunya terdapat gunung api purba. Derasnya ombak ataupun karena pergerakan kulit bumi menyebabkan batuan beku tersingkap. Bagi yang ketertaikan dengan dunia geologi, tempat ini sangat cocok untuk diadakan eksplorasi. Dari pantai Suwuk yang berada di barat Menganti sampai pantai Logending yang berada di sebelah timur Menganti menyimpan sejuta misteri geologi yang bisa dieksploitsi.

Jpeg

Saung dengan latar belakang homestay

Jpeg

Beristirahat di saung sambil menikmati pemandangan

Di Tanjung Karangboto sudah dibuat semcam homestay bagi pengunjung yang hendak menginap. Sangat cocok untuk ber honey moon. Terdapat juga saung-saung keren sebagai tempat menikmati pemadangan. Dikenakan biaya 10 ribu rupiah untuk pemakaian saung sampai sepuasnya. Tapi saat itu tidak ada petugas, sehingga sekali lagi kami dapat gratis memakainya, hehe. Setelah puas berfoto di sekitar saung, kami turun ke bawah, menghampiri kolom-kolom batuan beku itu. Debur ombak laut selatan yang membahana, batuan hitam yang eksostis, dan dilatarbelakangi pegunungan karst yang menjulang menjadikan tempat ini menjadi lokasi favorit berfoto.

Jpeg

Melihat-lihat ke laut, barangkali ketemu jodoh

Jpeg

Pemandangan Tanjung Karangboto, batuan yang yang berwarna hitam adalah batuan beku sisa gunung api purba

Setelah cukup berfoto di tengah deburan ombak, kami naik ke atas Tanjunng Karangboto, menyaksikan pemandangan yang mempesona. Di sebelah kanan nampak pantai Menganti yang memutih dan di sebelah kiri terbentang bebatuan karang yang kekar. Mata kita akan disuguhi pemandangan Samudra Hindia yang maha luas diselingi perahu-perahu kecil nelayan yang pulang menjala. Ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang membuat suasana semakin syahdu dan damai. Di atas tanjung ini tak lupa kami iseng membuat video meniru tingkah Syahrini. Videonya bisa dilihat di bawah ini.

Setelah puas menikmati keindahan dari atas kami bergegas turun. Tenggorokan sudah mengering dan perut kami mulai bergejolak. Tandanya untuk sarapan pagi, tapi lebih tepatnya disebut makan dhuha karena jam sudah menujukkan pukul 10. Warung makan yang kami singgahi tepat di bibir pantai, kami bisa merasakan percikan ombak dan bau air laut dari meja makan yang kami tempati. Kami memesan seekor ikan seberat 0,6 kg untuk dimakan bertiga. Biaya yang dikeluarkan untuk menyantap hasil laut di Menganti tidak terlalu mahal. Kami hanya menghabiskan 60 ribuan saja untuk bertiga, lengkap dengan nasi, lalapan, nasi dan minuman. Kenyang dan puas.

Jpeg

Menyantap ikan laut yang masih segar

Waktu sudah menunjukkan jam 11.30. Badan sudah terasa capek. Saatnya untuk pulang. Kami mengambil rute berbeda ketika pulang. Kami melewati jalur barat melewati pantai Logending terus berbelok ke utara menuju Gombong dan berbelok ke timur menuju rumah kami masing-masing. Disarankan bagi pengujung yang ingin mengunjungi Menganti sebaiknya melewati jalur barat yakni melalui Logending karena jalanan tidak begitu curam seperti dari arah pantai Suwuk.

Sebuah perjalanan yang menyenangkan dan tidak terduga-duga. Membawa seribu kenangan. Mari berpetualang ke Kebumen. Mari berjalan-jalan ke Jawa Tengah. Mari berwisata ke Indonesia.

oleh : Eko Rizqa S.

 

Kunjungi juga

Backpacker Jambi-Palembang-Bandung

Suka Duka Melatih Lagu Wajib Nasional di Perbatasan

Melatih Lagu Wajib Nasional di SD Nah, sekarang coba kalian baca nada yang saya tulis di papan!”

Sore itu jam pelajaran seni budaya kosong, guru mata pelajaran tersebut sedang berhalangan hadir. Setelah mendapatkan izin Kepala Sekolah untuk mengisi jam kosong di kelas XI, aku bergegas lari menuju lokasi kelas itu. Beberapa saat kemudian, kutuliskan angka satu sampai tujuh yang biasanya dikenal sebagai not angka pada pelajaran seni musik. Selanjutnya, kuminta murid-muridku untuk membacanya.

“Satu, dua, tiga, empat….,” teriak beberapa orang di antara mereka dengan cukup lantang. Aku sempat terkejut mendengarkan cara baca mereka. Benarkah mereka tidak mengerti sama sekali hal dasar seperti ini? Aku mencoba berpikir keras waktu itu. Ya, kita harus siap dengan setiap kemungkinan perbedaan kemampuan akademik siswa di daerah perbatasan dan Jawa pada umumnya. Namun saat mengamati ekspresi senyum jahil mereka, aku sadar… mungkin mereka ingin sedikit relax setelah beberapa pelajaran hitung yang sangat membingungkan. Yeah, they are just kidding me! Hehe…

“Ya, sekarang lupakan sejenak pelajaran Matematika kalian, kita belajar nada dulu!” ujarku sambil tersenyum mengamati tingkah jahil mereka. Menit selanjutnya berjalan cukup lancar ketika aku mulai menerangkan beberapa jenis nada kepada mereka.

Read the rest of this entry

Jagoan-Jagoan Tembak di Tapal Batas

https://i2.wp.com/jakartagreater.com/wp-content/uploads/2014/12/image387.jpg

dimuat juga di : http://jakartagreater.com/jagoan-jagoan-tembak-di-tapal-batas/

Kali ini, saya akan menceritakan kemampuan para penduduk perbatasan yang rata-rata jago menembak. Hutan hujan tropis yang mengelilingi desa mereka menyimpan banyak sumber daya hewani yang bisa dimanfaatkan. Lingkungan yang berupa hutan belantara menjadikan masyarakat pandai berburu, susur hutan, dan mencari jejak. Beberapa hewan yang sering diburu diantaranya kancil, payau, kijang, babi hutan dan sebagainya. Kegiatan berburu yang dilakukan tidak lagi mengunakan alat tradisional seperti sumpit atau tombak. Sebagian besar penduduk disini sudah menggunakan senapan penabur untuk berburu. Senjata penabur memiliki satu amunisi dalam satu kali tembak, dan apabila sudah mengenai sasaran, maka amunisi tersebut akan pecah menjadi beberapa pecahan proyektil.

Hewan buruan biasanya dijual di pasar, terkadang juga dimakan sendiri. Hewan buruan itulah yang menjadi sumber protein hewani untuk masyarakat sekitar. 1 ikat daging kijang atau kancil (kurang lebih 1 kg) dihargai 30 ribu. Jauh lebih murah daripada seekor ayam potong yang bisa mencapai 150-200 ribu per ekor. Tapi anehnya, murid-muridku lebih bersemangat memakan ayam potong karena mereka bilang bosan dengan daging hewan buruan. Sedangkan bagi kami, guru SM3T, tentu lebih memilih daging kijang karena tidak bakal ditemui di pasar-pasar di Jawa. Jika siswa kami mendapat buruan, biasanya mereka datang ke rumah dinas kami, dan kami pun dengan suka hati membelinya. Karena saking enaknya daging hewan buruan, sering kami mabuk kekenyangan, hehe. Read the rest of this entry

Para Patok Hidup Perbatasan

Dimuat juga di http://jakartagreater.com/para-patok-hidup-perbatasan/

Latihan Pengibaran bendera di Perbatasan

Latihan Pengibaran bendera di Perbatasan

Menjaga perbatasan negara janganlah sekedar dimaknai menjaga benda mati yang ditandai dengan patok atau koordinat-koordinat lintang dan bujur. Ada Sumber Daya Manusia yang justru harus lebih diperhatikan daripada hanya sekedar menunggu tanda simbolis berupa patok.

Sering kita dengar banyak warga negara Indonesia yang justru lebih nyaman dan enjoy hidup bersama negara jiran. Mereka mungkin sudah muak dengan segala janji-janji yang melambung tinggi, tetapi entah berapa yang ditepati. Janganlah salahkan pula jika mereka tak tahu siapa Presidennya atau bagaimana cara menyanyi Indonesia Raya jika sinyal, siaran radio, buku-buku atau guru tak sampai ke tempat mereka tinggal.

Salah satu program pemerintah untuk mendukung pengembangan Sumber Daya Manusia di perbatasan adalah dengan program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T). Diantara rekan sekalian mungkin lebih mengenal Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan. Programnya hampir mirip dengan Indonesia Mengajar tetapi program ini cakupannya lebih luas dari jenjang PAUD, TK, SMP, SMA dan program ini langsung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional. Program ini dibuat untuk ‘menambal’ kekurangan guru di daerah 3T sampai jumlah guru di sekolah tersebut mencukupi sekaligus meningkatkan kualitas sekolah. Setelah setahun mengabdi, maka kami akan dikuliahkan pendidikan profesi guru (PPG) selama setahun dan setelah lulus PPG, ada tawaran menjadi PNS dan kembali ke daerah 3T tersebut.

 

Read the rest of this entry

MENJAGA ASA DI TENGAH KETERBATASAN

oleh : Eko Rizqa S.

dimuat juga di http://jakartagreater.com/menjaga-asa-di-tengah-keterbatasan/

Bersama Danton pos PAMTAS Long Nawang

Bersama Danton Pos Long Nawang

Disini saya akan sedikit menceritakan kehidupan sehari-hari para prajurit penjaga perbatasan Indonesia di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia. Nama daerahnya adalah Apau Kayan, tepat di tengah-tengah jantung Kalimantan. Kebetulan saya juga bertugas menjadi guru SM3T yang bertugas setahun di perbatasan sehingga sering berinteraksi dengan para mereka.

Saat pertamakali bersilaturahmi ke pos PAMTAS (Pos penjaga Perbatasan) Long Ampung kesan yang saya dapatkan adalah miris. Bagaimana tidak, fasilitas yang dimiliki jauh dari kata layak. Listrik hanya menyala pada malam hari. Bangunan kayu yang sudah mulai lapuk. Senjata yang paling canggih pun masih senapan mesin ringan jenis FN Minimi.

Untuk sarana transportasi, hanya ada 1 motor trail untuk satu pos yang berjumlah 20 orang. Sehingga jika hendak bepergian ramai ramai kadang nebeng atau pinjam mobil yang dimiliki warga. Jika tidak kendaraan, terpaksa jalan kaki sampai ke kampung terdekat. Untuk pergeseran pasukan dan logistik dari Tarakan ke Long Ampung yang biasanya menggunakan helikopter Mi-17 buatan Rusia sekarang menggunakan pesawat perintis komersil. Hal ini disebabkan Heli Mi-17 tersebut ada yang jatuh dan mengalami kerusakan mesin. Mungkin diantara kita masih ada yang ingat tentang jatuhnya heli tersebut tahun lalu yang menewaskan penumpangnya. Nah itulah heli yang digunakan sebagai tulang punggung operasional disana. Selama ketidakadaan Heli tersebut otomatis pengiriman logistik dan pergerakan pasukan pun terganggu.

Kondisi jalan di perbatasan setelah diguyur hujan

dorong-dorong kalau musim hujan

Read the rest of this entry

Backpacker Jambi-Palembang-Bandung

Edisi 1, Keberangkatan

Tak lama setelah berpetualang setahun di tanah Borneo, perputaran nasib membawa diriku menjelajah tanah Andalas, Sumatra. Niat semula menjelajah sumatra pada bulan Desember ternyata bisa dipercepat bulan Oktober. Momentumnya adalah ketika Pakde tertua yang berada di Jambi mau menikahkan anaknya yang kedua. Nah, ane didaulat jadi perwakilan keluarga besar di jawa untuk menghadirinya. Sebenarnya sih mereka ingin ikut ke Jambi, tapi berhubung undangannya mendadak, sebagian besar dinas kerja, plus ada keluarga di Jawa yang walimahan, akhirnya tak ada yang bisa ke Jambi. Jadilah diriku yang berstatus pengangguran setengah tertutup yang diutus ke negri sepucuk jambi sembilan lurah itu. Karena mewakili keluarga besar maka biaya perjalanan ditanggung sponsorship keluarga. Alhamdulillah :).

Acara pernikahan di Jambi dilaksanakan hari Kamis, 9 Oktober 2014. Rencananya perjalanan ke Jambi akan menggunakan bis, tapi berhubung hari selasa harus mengambil kartu tes CPNS di Cilacap maka skema perjalanan perlu dimodifikasi agar tidak telat waktu. Dari Kutowinangun, Kebumen sampai Jakarta menggunakan bis DAMRI, terus dari Jakarta menggunakan pesawat sampai Jambi. Alasan utama ane memakai bus DAMRI adalah karena ada shuttle bus DAMRI di Kemayoran yang langsung menuju ke bandara, jadi tidak usah repot cari cari bus lagi. Tarif dari kutowinangun ke Kemayoran 135 ribu. Harga standar untuk kelas PATAS AC. Sedangkan dari Kemayoran ke bandara 30 ribu. Untuk pesawatnya ane gunain Citilink, adeknya Garuda. Alasannya cuma satu, harga termurah. Harga tiket pesawat 467 ribu dan sudah termasuk airpot tax sebesar 40 ribu. Untuk pemesanan tiket ane rekomendasikan pakai traveloka. Aplikasinya enteng, enak, dan jelas informasinya (ini bukan iklan lho). Cuma ane saranin kalau membuka traveloka untuk penerbangan yang sama untuk kedua kalinya, cache di HP /komputer harap dihapus dulu. Jika kita membuka lagi rute yang sama untuk kedua kalinya biasanya harganya naik, jadi perlu dihapus cache nya agar tidak terdeteksi traveloka (jurus ngirit, hehe).

Pada mulanya ane agak waswas pesan tiket secara online tetapi setelah merasakannya ternyata enak dan enggak ribet. Pertama kita buka situs traveloka atau instal aplikasi traveloka di HP (android ya gan, jangan di HP jadul, enggak bakalan bisa). Kedua kita pilih rute dan tanggal, nanti akan muncul banyak pilihan dari harga termahal sampai termurah. Kalau pilih maskapai jangan asal yang termurah tapi lihat dulu keterangannya. Misal jika maskapai X harga tiket 420ribu tapi gak dapat apa apa. Kemudian ada maskapai Y harga tiket 450 ribu tapi sudah termasuk airport tax 40ribu maka otomatis lebih murah maskapai Y. Kenapa demikian? Karena eh karena di bandara kita kan membayar 40ribu lagi sebagai airport tax untuk maskapai X. Jadi totalnya kita membayar 460ribu. Lebih mahal kan :). (Jurus baru lagi untuk ngirit, hehe). Setelab memilih maskapainya mita akan diminta untuk mengisi daftar diri dan sebagainya. Setelah selesai kita akan menerima email pemberitahuan untuk mentransfer biaya tiket pesawat. Bukti kuitansi bisa kita print sendiri atau cukup tunjukkan saja file tersebut ke petugas di bandara.

Read the rest of this entry

Perjalanan SM-3T UNY Long Ampung, Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kaltara

Sebuah cerita perjalanan setahun mengajar di Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Setahun Mengabdi, selamanya terkenang di hati

Baca juga : Menjaga Asa di Tengah Keterbatasan

Kartu Ucapan Lebaran / Idhul Fitri

Kartu Ucapan Lebaran / Idhul Fitri

Kartu Ucapan Lebaran / Idhul Fitri

Sebiru Hari Ini – Edcoustic Dedicated for 7th Generation SDIT Ibnu Abbas Kebumen

Lirik Sebiru Hari Ini – Edcoustic
Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di siniSeindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan Illahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah

Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

intro

reff 2x

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

"MAS GURU"

Gurumu Sahabatmu

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

"MAS GURU"

Gurumu Sahabatmu