Category Archives: Video

Pantai Menganti : An Unexpected Journey

Lomba Blog Visit Jawa Tengah

Lomba Blog Visit Jawa Tengah

Pantai Menganti dilihat dari atas

Secara tidak sengaja aku bertemu Imam Aji Subagyo alias Aji di Kantor Pos kebumen. Ngobrol basa-basi kesana kemari, menanyakan kabar tentang kegiatan apa saja yang dilakukan pengacara semacam kami (Pengacara: pengangguran banyak acara). Rentang antara kepulangan SM-3T angkatan III pada bulan september sampai persiapan PPG pada bulan Februari membuat kebingungan para kombatan SM3T Malinau. Mengajar di sekolah tentu tidak mungkin. Tidak mungkin kami mengajar 1 semester saja, kecuali kalau hanya sekedar menambal sebagai guru pengganti temporer. Sebagian jadi pengeles (orang yang memberikan les privat di bimbel), sebagian mencoba berwirausaha, dan sisanya menjadi tukang dolan seperti aku. Iseng-iseng kuajak dia ke Pantai Menganti, obyek wisata yang menjadi trending topic di daerah berplat AA dan R dan kini mulai terkenal ke seluruh nusantara.

Setelah beberapa waktu yang lalu menjelajah Bandung, Ungaran, dan sebagian pulau Sumatra, kini saatnya menjelajah obyek wisata lokal. Oke, kita persingkat saja. Setelah beberapa lama aku malah melupakann rencana ke Menganti, tiba tiba interaksi di grup WA (WhatsApp) memunculkan nama Menganti. Aji langsung mengingatkan aku tentang Menganti, dan langsung ku OK kan saja. Hari itu selasa sore. Dan rencananya hari kamis kami berangkat. Tiba-tiba Sukron mengusulkan langsung hari Rabu pagi harinya saja. setelah bernegoisasi secara alot kamipun memutuskan Rabu pagi setelah subuh langsung check out ke Menganti. Aku dan Aji yang berjarak jauh dari Menganti harus berangkat subuh-subuh demi melihat sunlight, eh sunrise di Menganti. Aku berada di Kutowinangun dan Aji berada di Mirit yang berada di sebelah timur Kabupaten Kebumen. Menganti berada di sebelah barat kabupaten Kebumen, dekat perbatasan kabupaten Cilacap. Sukron sendiri berada di kecamatan Ayah, dekat dari pantai Menganti yang berada di kecamatan Buayan. Rencananya Aji yang akan menghampiriku agar tidak usah membawa motor terlalu banyak.

Pagi harinya, aku terbangun jam 4 subuh. Alarm yang disetting keras-keras membangunkanku. Langsung aku memberi pesan di WA untuk mereka berdua. Setengah jam kunanti tidak kunjung ada balasan. Pasti mereka belum bangun. Jam 5 kurang 5 menit Aji membalas WA ku. Setelah kuhitung-hitung, terlalu lama waktu yang digunakan jika dia memutar dulu ke rumahku, maka disepakati kita bertemu di depan kantor Camat Ambal. Motor kukeluarkan, kupanaskan dan terakhir kulihat indikator bensin. Ternyata jarum sudah menunjuk ke strip merah. Aduh, akhirnya aku harus memutar dulu ke Pom Bensin Kutowinangun dulu. Jam 5.30 aku baru sampai kantor camat Ambal. Sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi melihat sunrise. Tapi karena sudah kadung berangkat, kita tetap beangkat. Sementara itu Sukron baru membalas WA, menanyakan posisi kami.

Aku dan Aji segera menggeber motor masing-masing agar tidak kesiangan sampai kesana. Setelah pantai Suwuk, jalan mulai menanjak. Adikku berpesan agar berhati-hati saat menuju Pantai Menganti karena jalanan yang ekstrem, curam, berkelok-kelok dan sempit. Benar saja, di beberapa titik kujumpai jalan seperti ini. Konsentrasi, mesin, dan rem harus dalam kondisi prima agar dapat menaklukan jalanan ini. Beberapa kali kami berpapasan dengan motor dan mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Kita harus sangat berhati-hati jika berpapasan dengan kendaraan lain. Setelah sekitar 15 menit berkelak-kelok di jalanan, akhirnya kami menemukan gerbang pintu masuk Menganti. Belum ada penjaga di gerbang tersebut sehingga kami dapat masuk secara gratis. Kalau sudah ada petugas, maka setiap pengunjung wajib membayar 2.000 rupiah untuk dapat masuk ke Pantai Menganti. Selepas gerbang masuk terlihatlah Sukron yang sudah menunggu kami.

Sukron kini berada di depan rombongan. Dia meminta kami berhati-hati karena jalanan masih ekstrem. Benar saja, jalanan dari pintu gerbang sampai ke pantai sangat curam. Kami terus berhati-hati mengendarai motor. Untungnya jalanan sudah diaspal mulus sehingga tidak menambah beratnya perjalanan.

Untuk pertamakalinya aku bisa berkunjung ke Pantai Menganti. Pantai ini terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Buayan. Konon menurut cerita dari shahibul hayat, ‘Menganti’ berasal dari kata menanti. Begini kisah selengkapnya. Ada seorang panglima perang kerjaan Majapahit melarikan diri ke pesisir selatan Jawadwipa karena hubungannya dengan pujaan hati tak direstui raja. Mereka berjanji bertemu di tepi samudra berpasir putih nan indah. Sepanjang hari, sang panglima pun terus menanti pujaan hati yang ternyata tak kunjung tiba di atas bukit kapur sambil menanti dan terus menanti. Nah begitulah kisahnya. Terlepas betul tidaknya cerita tersebut, itulah satu-satunya sumber yang tersedia tentang asal muasal kata ‘Menganti’.

Setelah 5 menit berlalu, Alhamdulillah sampailah kami ke pantai Menganti. Tidak salah seperti yang dikatakan banyak orang, pantai ini sangat mempesona, amazing dan wonderful. Hamparan pasir putih terbentang. Sangat jarang kita menjumpai pantai pasir putih di Pulau Jawa. Kemungkinan besar pasir putih ini berasal dari batuan gamping atau terumbu karang yang terseret ke darat. Di atasnya menjulang pegunungan karst yang masih merupakan rangkaian kawasan karst karangbolong atau Karst Gombong Selatan.

Jpeg

Batuan karang

Jpeg

Pemandangan eksotis seperti di Bali

Setelah sampai di tepian pantai Menganti, kami diajak Sukron menuju ke tebing di sisi atimur. Tebing ini berada di tanjung kecil yang bernama Tanjung Karangboto. Di tanjung sempit ini terdapat mercusuar peninggalan Belanda yang dibuat tahun 1900an. Kami tidak tahu apakah mercusuar itu masih berfungsi atau tidak. Tangga yang berada di mercusuar tersebut rusak sehinga kami tidak bisa menaikinya. Di sebelah barat tanjung Karangboto terbentanglah sebuah pantai kecil yang masih masuk kawasan Pantai Menganti. Pantai itu bernama pantai Karangboto. Jika Menganti berpasir putih maka disini yang kita jumpai adalah batuan keras berwarna kehitam hitaman, bertumpuk tumpuk membentuk kolom batuan.

Jpeg

Di atas Tanjung Karangboto

Aku agak terkejut melihat penampakan batuan yang berbeda dari batuan di sekitarnya. Tidak salah lagi, batuan tersebut masuk golongan batuan beku. Itu artinya daerah ini pada dulunya terdapat gunung api purba. Derasnya ombak ataupun karena pergerakan kulit bumi menyebabkan batuan beku tersingkap. Bagi yang ketertaikan dengan dunia geologi, tempat ini sangat cocok untuk diadakan eksplorasi. Dari pantai Suwuk yang berada di barat Menganti sampai pantai Logending yang berada di sebelah timur Menganti menyimpan sejuta misteri geologi yang bisa dieksploitsi.

Jpeg

Saung dengan latar belakang homestay

Jpeg

Beristirahat di saung sambil menikmati pemandangan

Di Tanjung Karangboto sudah dibuat semcam homestay bagi pengunjung yang hendak menginap. Sangat cocok untuk ber honey moon. Terdapat juga saung-saung keren sebagai tempat menikmati pemadangan. Dikenakan biaya 10 ribu rupiah untuk pemakaian saung sampai sepuasnya. Tapi saat itu tidak ada petugas, sehingga sekali lagi kami dapat gratis memakainya, hehe. Setelah puas berfoto di sekitar saung, kami turun ke bawah, menghampiri kolom-kolom batuan beku itu. Debur ombak laut selatan yang membahana, batuan hitam yang eksostis, dan dilatarbelakangi pegunungan karst yang menjulang menjadikan tempat ini menjadi lokasi favorit berfoto.

Jpeg

Melihat-lihat ke laut, barangkali ketemu jodoh

Jpeg

Pemandangan Tanjung Karangboto, batuan yang yang berwarna hitam adalah batuan beku sisa gunung api purba

Setelah cukup berfoto di tengah deburan ombak, kami naik ke atas Tanjunng Karangboto, menyaksikan pemandangan yang mempesona. Di sebelah kanan nampak pantai Menganti yang memutih dan di sebelah kiri terbentang bebatuan karang yang kekar. Mata kita akan disuguhi pemandangan Samudra Hindia yang maha luas diselingi perahu-perahu kecil nelayan yang pulang menjala. Ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang membuat suasana semakin syahdu dan damai. Di atas tanjung ini tak lupa kami iseng membuat video meniru tingkah Syahrini. Videonya bisa dilihat di bawah ini.

Setelah puas menikmati keindahan dari atas kami bergegas turun. Tenggorokan sudah mengering dan perut kami mulai bergejolak. Tandanya untuk sarapan pagi, tapi lebih tepatnya disebut makan dhuha karena jam sudah menujukkan pukul 10. Warung makan yang kami singgahi tepat di bibir pantai, kami bisa merasakan percikan ombak dan bau air laut dari meja makan yang kami tempati. Kami memesan seekor ikan seberat 0,6 kg untuk dimakan bertiga. Biaya yang dikeluarkan untuk menyantap hasil laut di Menganti tidak terlalu mahal. Kami hanya menghabiskan 60 ribuan saja untuk bertiga, lengkap dengan nasi, lalapan, nasi dan minuman. Kenyang dan puas.

Jpeg

Menyantap ikan laut yang masih segar

Waktu sudah menunjukkan jam 11.30. Badan sudah terasa capek. Saatnya untuk pulang. Kami mengambil rute berbeda ketika pulang. Kami melewati jalur barat melewati pantai Logending terus berbelok ke utara menuju Gombong dan berbelok ke timur menuju rumah kami masing-masing. Disarankan bagi pengujung yang ingin mengunjungi Menganti sebaiknya melewati jalur barat yakni melalui Logending karena jalanan tidak begitu curam seperti dari arah pantai Suwuk.

Sebuah perjalanan yang menyenangkan dan tidak terduga-duga. Membawa seribu kenangan. Mari berpetualang ke Kebumen. Mari berjalan-jalan ke Jawa Tengah. Mari berwisata ke Indonesia.

oleh : Eko Rizqa S.

 

Kunjungi juga

Backpacker Jambi-Palembang-Bandung

Sebiru Hari Ini – Edcoustic Dedicated for 7th Generation SDIT Ibnu Abbas Kebumen

Lirik Sebiru Hari Ini – Edcoustic
Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di siniSeindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan Illahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah

Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

intro

reff 2x

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan