Category Archives: opini

Catatan Selepas Senja (eps.1) Awoal Kehidupan PPG Bermula (Kehidupan di Asrama PPG SM3T UNY)

(Catatan Kecil tentang Kehidupan asrama PPG SM3T UNY Angkatan III, ditulis di lantai 3)

Pembukaan PPG SM-3T

Pembukaan PPG SM-3T UNY Angkatan III

 

Jeda menganggur yang hampir setengah tahun membuat bimbang alumni SM3T. Waktu yang sangat tanggung untuk bekerja secara formal di sekolah. Jikapun ada yang mengajar di sekolah, bisanya hanya menjadi guru pengganti ataupun punya perjanjian khusus dengan sekolah bersangkutan bahwa mereka hanya sebentar saja mengabdi di sekolah tersebut. Beberapa diantaranya menjadi pertapa yang mendalami ilmu CPNSan yang sebagian daripadanya berhasil lolos seleksi. Sebagian juga dari mereka tiba-tiba menjadi backpacker, goweser, fotografer, iciper kuliner, blogger, dan traveller garis keras. Sebagian lagi mendadak beriwrausaha. Sebagian lagi pasrah menjadi penatalaksana rumah tangga, membantu ayah dan bunda mengepel, nyuci, dan nyetrika. Dan sebagian lagi-mungkin yang paling banyak- berubah profesi menjadi pengacara a.k.a pengangguran banyak acara, hehehe.

5 bulan bukanlah waktu yang pendek untuk menunggu. Alumni SM3T yang kebanyakan mengalami kegalauan tingkat akut menyambut dengan ceria saat dibuka pendaftaran PPG SM3T pada akhir bulan Februari. Rautan emosi dan gelisah yang ditampilkan air muka sejak awal tahun karena ketidakpastian pendaftaran, kini berubah menjadi luapan gairah nan sumringah. Semua menyambut dengan gembira, mengingatkan lagu pemilu Orde Baru. Bernada riang, bertempo cepat dan bersemangat.

Read the rest of this entry

Iklan

Jagoan-Jagoan Tembak di Tapal Batas

https://i0.wp.com/jakartagreater.com/wp-content/uploads/2014/12/image387.jpg

dimuat juga di : http://jakartagreater.com/jagoan-jagoan-tembak-di-tapal-batas/

Kali ini, saya akan menceritakan kemampuan para penduduk perbatasan yang rata-rata jago menembak. Hutan hujan tropis yang mengelilingi desa mereka menyimpan banyak sumber daya hewani yang bisa dimanfaatkan. Lingkungan yang berupa hutan belantara menjadikan masyarakat pandai berburu, susur hutan, dan mencari jejak. Beberapa hewan yang sering diburu diantaranya kancil, payau, kijang, babi hutan dan sebagainya. Kegiatan berburu yang dilakukan tidak lagi mengunakan alat tradisional seperti sumpit atau tombak. Sebagian besar penduduk disini sudah menggunakan senapan penabur untuk berburu. Senjata penabur memiliki satu amunisi dalam satu kali tembak, dan apabila sudah mengenai sasaran, maka amunisi tersebut akan pecah menjadi beberapa pecahan proyektil.

Hewan buruan biasanya dijual di pasar, terkadang juga dimakan sendiri. Hewan buruan itulah yang menjadi sumber protein hewani untuk masyarakat sekitar. 1 ikat daging kijang atau kancil (kurang lebih 1 kg) dihargai 30 ribu. Jauh lebih murah daripada seekor ayam potong yang bisa mencapai 150-200 ribu per ekor. Tapi anehnya, murid-muridku lebih bersemangat memakan ayam potong karena mereka bilang bosan dengan daging hewan buruan. Sedangkan bagi kami, guru SM3T, tentu lebih memilih daging kijang karena tidak bakal ditemui di pasar-pasar di Jawa. Jika siswa kami mendapat buruan, biasanya mereka datang ke rumah dinas kami, dan kami pun dengan suka hati membelinya. Karena saking enaknya daging hewan buruan, sering kami mabuk kekenyangan, hehe. Read the rest of this entry

“PKS Dan Lenin” | PKS di mata anak kiri

Oleh: Ragil Nugroho*
PERSOALAN yang sepele: mana bertahan dan mana tersungkur.
Sedikit nostalgia. Tahun 1999, dua partai dari ideologi berbeda bertarung dalam Pemilu. Partai Rakyat Demokratik (PRD) berada di kiri. Di seberangnya, Partai Keadilan (PK) memilih posisi kanan. PRD mampu membangun tak kurang dari 14 cabang di tingkat provinsi dan 150-an cabang di level kabupaten. Hasilnya, sekitar 78.000 orang memberikan suara pada partai bernomor punggung 16 ini. Prestasi yang bagus.

Tapi, dari hari ke hari PRD semakin lingsir. Hingga pada satu titik: kita akan kesulitan menemukan di mana kuburannya karena tak ada batu nisan di atasnya. Sebaliknya, dengan modal tujuh kursi di Pemilu 1999, PKS tambah moncer.

Tentu ada racikan yang diramu PKS sehingga mereka bisa menjadi empat besar dalam Pemilu 2009—posisi yang sama dengan PKI dalam Pemilu 1955.

Tahun 1902 merupakan masa yang sulit bagi Lenin. Represi kekuasaan luar biasa. Ibaratnya, daun yang luruh dari tangkainya bisa dicurigai melawan kekuasaan. Ruang gerak sumpek. Mengatasi situasi ini, Lenin menulis risalah: What is to be Done?—Apa yang Harus Dilakukan?

Read the rest of this entry

Rokok dan Mahasiswa

Oleh : Eko Rizqa S.*

Barang yang satu ini akrab dengan kita. Sebagai sahabat di waktu senggang, dan teman di kala sedang banyak pikiran. Ya, itulah rokok. Benda mungil panjang berbentuk tabung. Semua kalangan mengenalnya, semua kalangan menyukainya. Dari rakyat paling jelata sampai pejabat tinggi negara. Mahasiswa pun ikut-ikutan mengkonsumsinya. Aktivitas merokok pun diakukan karena berbagai alasan. Dari mengikuti budaya setempat, sampai menjaga gengsi. Tidak merokok tidak gaul, itu perkataan sebagian orang yang dijadikan justifikasi orang untuk merokok.

Jika kita melihat mahasiswa merokok, harusnya hati ini miris. Mengapa? Karena sebagai golongan yang dianggap cerdas, seharusnya ia tahu kalu asap rokok merupakan benda berbahaya, baik buat individu maupun lingkungan sekeliling. Mungkin ada yang bilang bahwa rokok menyumbang sekian lapangan kerja dan pajak bagi negara. Namun, sekali lagi diingat jika dihitung efek negatif dari rokok lebih besar daripada sekedar lapangan pekerjaan dan pajak.

Read the rest of this entry

DOSEN BERKARAKTER SEBAGAI TUMPUAN UTAMA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

 

 

 

 

 

Suatu saat Khalifah Harun Al Rasyid pernah meminta Imam Malik mendatanginya. “Datanglah ke tempat kami.” katanya.“ Agar anak-anak kami dapat mendengarkan kitab al Muwattha”. Dengan tegas Imam Malik mengatakan. “Semoga Allah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian. Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi. Dan ketika khalifah menyuruh kedua putranya datang ke masjid untuk belajar dengan rakyat, Imam malik mengatakan, “Tak apa, tapi dengan syarat mereka tidak boleh melangkahi bahu jamaah dan bersedia duduk di posisi mana saja yang lapang bagi mereka.”

Kisah di atas terjadi ratusan tahun lampau, namun jika direnungkan kita akan mendapat pelajaran tak terhingga. Imam Malik ingin mengingatkan kita bahwa proses belajar tidak hanya sekedar transfer ilmu tetapi juga transfer nilai. Sedari awal, beliau mengingatkan bahwa dibutuhkan motivasi belajar yang kuat dalam mencari ilmu meskipun mereka adalah termasuk golongan terpandang sekalipun. Selain perkara motivasi, beliau juga menekankan sikap positif dalam belajar. Sikap kesombongan dalam diri dihilangkan untuk mendapatkan ilmu yang didapatkan. Esensi yang ditanamkan Imam Malik sesungguhnya adalah guru/pengajar jangan hanya mentransfer ilmu saja tetapi juga mengajarkan nilai-nilai positif untuk objek yang dia ajar. Pendidikan karakter sudah diterapkan disini. Kisah di atas adalah sebuah cara untuk mengimplementasikan pendidikan karakter bagi peserta didik,

Read the rest of this entry

Meninjau Kembali SBI

Akhir-akhir ini santer diberitakan bahwa Sekolah Berstandar Internasional (SBI) gagal diterapkan di Indonesia. Biaya yang dikeluarkan wali murid tidak sepadan denagn kualitas pendidikan yang dijanjikan. Bahkan banyak diantaranya hanya mengubah bahasa pengantar menjadi bahasa Inggris tanpa meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Sungguh memprihatinkan.
Dari awal konsep perencanaaannya, SBI sudah bermasalah. SBI telah melanggar konstitusi dalam UUD 1945. Konstitusi menyebutkan bahwa pemerintah harus membuat satu sistem pendidikan nasional, sedangkan SBI menimbulkan diskriminasi dan kastanisasi. SBI hanya akan membuat sisiwa terkotak-kotakkan sesuai dengan kemampuan finansialnya. Siswa yang nyatanya bagus secara akademik tidak akan mendapatkan pendidikan yang terbaik hanya karena keterbatasan finansial.
Pemerintah seharusnya meninjau kembali konsep pendidikan yang mengkotak-kotakkan siswa sesuaai kemampunan finansial. Jika sekolah tersebut adalah sekolah swasta tentu tidak bermasalah. Namun, jika sekolah tersebut adalah sekolah negeri yang tentu saja masih disubsidi pemerintah, pengkotak-kotakan ini akan menimbulkan kecemburuan sosial diantara para siswa.
Program sekolah gratis yang pernah digembor-gemborkan jangan hanya retorika semata. Kualitas pendidikan yang terbaik harus dinikmati oleh semua kalangan dari seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Fokus sekolah tidak lagi berlomba-lomba pada jumlah SPP yang ditarik tetapi berlomba-lomba menghasilkan output yang berkualitas. Dengan demikian, amanat Pembukaan UUD 1945 agar negara dapat mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terealisasikan, tidak hanya sekedar menjadi harapan kosong yang hanya didengung-dengungkan.
rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan