Category Archives: Islam

Inilah Praktek Penerapan Fiqih Muwazanah, Fiqih Ikhtilaf, Fiqih Ma’alat dalam Da’wah

Inilah Praktek Penerapan Fiqih Muwazanah, Fiqih Ikhtilaf, Fiqih Ma’alat dalam Da’wah

sheikh-abdul-rahman-al-barrakSyekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, adalah ulama sepuh di Arab Saudi yang sangat disegani. Beliau mengeluarkan fatwa terkait dengan referendum UU Mesir yg menimbulkan polemik di kalangan Islamiyyin Mesir, antara yg pro dan kontra dalam hal partisipasi memberikan suara di dalamnya… Cukup menarik cara beliau melihat sudut pandangnya. Fatwa yg sarat dengan pandangan utuh tengan fiqih siyasi dalam kontek kekinian… silakan dibaca… [Abdullah Haidir]

Musyafa AR: “Praktek penerapan: 1. FIQIH MUWAZANAH 2. FIQIH IKHTILAF 3. FIQIH MA-ALAT. Mumtaz (excellent)”

Segala puji hanyalah bagi ALLah, sholawat dan salam atas hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat. Amma bakd
Telah sampai kepadaku terjadinya perbedaaan pendapat di antara saudara kami para Ahli Sunnah di Mesir seputar permasalahan pemberian suara dalam Referendum UUD Mesir. Perbedaan diantara mereka adalah seputar hukumnya : apakah haram, boleh atau bahkan wajib. Sebagaimana diketahui bahwa setiap mereka memiliki hujjah dan dalil untuk menguatkan pendapatnya. Dan saya telah mengkaji dalil dan hujjah mereka, dan sepanjang yang saya dapati cara beristidlal (berhujjah dengan dalil) sama-sama kuat yang mungkin membuat bingung mereka yang mengkajinya.
Iklan

“Yen Agal Ngungkuli Watu, Yen Alus Ngungkuli Banyu”

Oleh : Ustadz Cahyadi Takariawan

sumber : okipetruslaoh.blogspot.com

Masyarakat Jawa, sebagaimana masyarakat suku lainnya, memiliki tata cara kehidupan dan budaya yang khas. Akan lebih tepat bagi para aktivis dakwah yang melakukan kegiatan dakwah untuk masyarakat Jawa, apabila mengetahui berbagai budaya yang mereka miliki. Ajaran hidup dan budaya masyarakat Jawa, sudah banyak diungkapkan dalam bentuk pitutur luhur atau pepatah dan kalimat hikmah.

Pada kesempatan kali ini, kita mencoba mempelajari satu pitutur luhur yang menggambarkan watak rata-rata masyarakat Jawa. Pitutur itu berbunyi, “Yen Agal Ngungkuli Watu Yen Alus Ngungkuli Banyu”.

Makna Pitutur

Pepatah di atas secara harfiah bermakna, apabila keras (kasar) melebihi batu dan apabila halus (lembut) melebihi air.

Secara spesifik sebenarnya pepatah ini mengacu atau diacukan pada perwatakan umum para ksatria Pendawa yang dalam konteks tertentu sering diibaratkan sebagai perwatakan orang Jawa. Secara umum, para ksatria Pendawa jika keluar watak keras atau kasarnya akan bisa menjadi sangat keras seperti batu atau bahkan kasar melebihi apa pun. Demikian pula jika keluar watak lembut atau halusnya, bisa sangat halus melebihi air. Sikap itu dipengaruhi oleh stimulan atau faktor-faktor luar yang menyebabkannya menjadi demikian.

Dicontohkan bahwa apabila para ksatria Pendawa diperlakukan dengan lembut, maka ia akan membalas perlakuan tersebut jauh lebih lembut lagi. Akan tetapi bila diperlakukan dengan kasar atau jahat, ia akan bisa membalas dengan lebih kasar atau jahat lagi.

Pepatah ini secara umum sebenarnya ingin menggambarkan dua sisi sifat manusia yang saling bertolak belakang. Manusia itu jika keluar sifat kasar, keras, amarah, nafsu angkara murkanya bisa sangat kasar atau sangat keras. Namun bila yang keluar adalah sifat atau watak halusnya, maka kehalusannya bisa melebihi halus atau lembutnya air.

Read the rest of this entry

Mengembalikan Keunggulan Peradaban Islam

Oleh : Eko Rizqa S.

Sungguh, Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah saja, tetapi semua aspek kehidupan diajarkan. Ilmu pengetahuan mendapatkan kedudukan sangat terhormat di dalam Islam. Nabi Muhammad pun bersabda,

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”,

“Ada tiga golongan yang dapat memberi syafaat (pertolongan) pada hari kiamat, yaitu para nabi, para ulama (orang yang berilmu), dan para syuhada. Semua ini membuat umat Islam nantinya akan melakukan pencapaian dan penyerapan ilmu besar-besaran dari seluruh dunia. Al Qur’an sendiri adalah buku ilmu. Di dalamnya banyak diberikan penekanan yang besar pada ‘ilm (ilmu). Bahkan ayat pertama yang diturunkan berbunyi Iqra bismirrabbika (Bacalah, dengan nama Tuhanmu).

Sejak zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah umat Islam telah melakukan proses penyerapan ilmu pengetahuan dengan sangat tinggi. Ini adalah hasil didikan Rasulullah yang mengutamakan ilmu dan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Ilmu-ilmu terbaik dari semua peradaban besar dunia, seperti Yunani, Romawi, Persia,India dan Cina, semuanya dikumpulkan, diterjemahkan. dianalisis secara sistematis dan dikembangkan lagi (Laksono, 2010).

Umat Islam seperti menemukan harta karun berisi intan permata. Dengan penuh antusiasme umat Islam mulai menyerap semua ilmu yang ada. Semangat mereka dalam menyerap ilmu sama besarnya dengan semangat mengajarkan agama Islam. Bagi umat Islam saat itu, ini adalah kesempatan meraih kemenangan dunia dan akhirat, Perhatian penguasa saat itu terhadap ilmu juga sangat besar. Bahkan pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid dan Al Mu’tashim, buku dihargai dengan emas. Buku yang dihasilkan dihargai dengan emas seberat buku tersebut. Subhanallah.

Read the rest of this entry

Irshad Manji: Kebebasan Akademik dan “Salam Pantat”

Oleh: Dr. Adian Husaini

ACARA diskusi Irshad Manji, yang bertema “Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral”, di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), 9 Mei 2012 dibatalkan pimpinan Universitas.  Situs http://www.merdeka.com (9/5/2012) memberitakan bahwa dalam akun twiternya, Irshad Manji menyebut, Rektor UGM-lah yang membatalkan diskusi yang diselenggarakan di Center  for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) –pasca sarjana UGM tersebut. [baca juga: Acara Irshad Manji di Yogyakarta Berantakan]

Berbagai pihak kemudian menyesalkan dan memberikan kecaman terhadap keputusan pembatalan diskusi Irshad Manji tersebut. Direktur  CRCS, Dr. Zainal Abidin Bagir, seperti dikutip situs yang sama menyatakan, “Terlalu cepat tunduk pada ancaman berarti hidup dalam dan menghidupi atmosfer  kekerasan itu. Apakah kita (UGM) sudah hidup dan bernafas dari menghirup udara di atmosfer itu?”

Situs http://indonesiabuku.com, (10/5/2012) menulis judul berita “Rektor UGM Tolak Pemikiran Irshad Manji”.  Dikabarkan, ada pihak sangat kecewa karena Rektor UGM, Prof. Ir. Soedjarwadi, M.Eng., Ph.D. telah membunuh demokrasi.  Beberapa media melaporkan pernyataan M. Syafii Maarif yang meminta diskusi bersama Irshad Manji harus tetap diadakan.  “Saya rasa kampus harus tetap bebas dan punya nyali. Kenapa kampus harus takut dengan ancaman?” kata Syafii, Rabu (9/5/2012), seperti dikutip metrotvnews.com.

Read the rest of this entry

Kisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis

Setelah berdebat dengan A. Hassan, tokoh atheis mengakui kekeliruan dan mengakui adanya Tuhan

Oleh: Artawijaya (Editor Pustaka Al Kautsar)

Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

Read the rest of this entry

Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gender #4

“MONYET SAJA TAHU!”

Oleh: Dr. Adian Husaini

Louann Brizendine, M.D., adalah seorang dokter syaraf di University of California, San Francisco, AS. Lulusan Fakultas Kedokteran Harvard ini belakagan popular melalui bukunya, berjudul The Female Brain dan The Male Brain. Melalui penelitian dan pengalamannya yang panjang, selama 25 tahun sebagai dokter, Brizendine menemukan bahwa sejak awal mula kelahirannya, laki-laki dan perempuan sudah memiliki berbagai perbedaan. Bukan hanya fisik, tetapi juga otak, sifat dan perilakunya.

Simaklah paparan Dokter Brizendine berikut ini:

“Otak laki-laki dan perempuan berbeda sejak masa kehamilan. Jelas kalau kita mengatakan bahwa semua sel di dalam otak dan tubuh laki-laki adalah laki-laki. Tetapi, ini berarti ada perbedaan, di setiap tingkatan dari setiap sel, antara otak laki-laki dan perempuan. Sel laki-laki memiliki kromosom Y dan otak perempuan tidak memilikinya. Itu perbedaan kecil. Perbedaan penting mulai terjadi di awal pembentukan otak, ketika gen menetapkan tahapan untuk proses pembentukan tahapan DNA lebih lanjut oleh hormon. Delapan minggu usia kehamilan, testikel laki-laki mungil mulai menghasilkan testosteron yang cukup banyak untuk merendam otak dan pada dasarnya mengubah strukturnya. Selama kehidupannya, otak laki-laki akan dibentuk dan dibentuk ulang sesuai dengan cetak biru yang dirancang oleh gen dan hormon seks laki-laki. Dan, biologi otak laki-laki ini menghasilkan perilaku laki-laki yang unik.” (Louann Brizendine, Male Brain, Mengungkap Misteri Otak Laki-laki, Jakarta: Ufuk Press, 2010, hal.13-14).

Read the rest of this entry

Barat dan Islam: Dibutuhkan penghargaan tanpa Diskriminasi

Hampir tiap hari kita mendengar analisis, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan, cendekiawan dan politikus Barat tentang Islam. Dari kacamata Barat, diingkari atau tidak, citra Islam terasosiasi tidak baik. Jarang, ada seseorang yang mampu menggambarkan dialektika dunia Barat dan dunia Islam, tanpa terjebak di lubang prasangka, curiga, sinisme, atau kebencian. Inilah stigma terhadap Islam.

Subhanallah. Tidak seperti yang lain, seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, tiba-tiba telah membaca al-Quran. Juga tidak seperti yang lain, ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya pada banyak perjalanan di dunia islam: Iraq, Iran, Libya, Sudan sampai Afghanistan. Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer akhirnya menulis. Hasilnya sebuah buku berjudul, “Feindbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam – Sepuluh Tesis Anti Kebencian”), yang terbit di akhir tahun 2011.

Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Menurutnya, Barat justru jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko.

Read the rest of this entry

Membangun Kembali Perdaban Islam dari Masjid

Ada sebuah kisah menarik dari kisah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Seyogyanya orang yang berpindah ke tempat baru, maka hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah membAngun tempat tinggal yang baru. Akan tetapi bagi Rasulullah, membangun masjid ternyata lebih penting. Dalam Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa Rasulullah menumpang terlebih dahulu di rumah salah seorang penduduk Ansar selama 7 bulan. Setelah pembangunan masjid selesai barulah Rasulullah membangun rumah beliau di Madinah. Mengapa Rasulullah lebih mendahulukan masjid? Bagi Nabi, fungsi masjid bukan hanya tempat beribadah semata. Nabi Muhammad berpikir visioner. Zaman islam yang gilang-gemilang akan dimulai dari sini. Masjid benar-benar dimakmurkan pada saat itu. Tidak hanya untuk shalat 5 waktu saja, tetapi kerja-kerja membangun peradaban dipusatkan di sini

Tetapi sayang, umat Islam sekarang sepertinya kurang mengambil spirit dari sirah di atas. Kebanyakan masjid saat ini sebatas difungsikan untuk kegiatan ibadah saja. Padahal banyak aktivitas produktif yang bisa dilakukan di masjid, dari diskusi ilmiah sampai pembangunan ekonomi umat. Semua bisa dilakukan di masjidi.  Seharusnya pengaruh masjid tidak hanya pada jamaah shalat saja tetapi mampu menyinari lingkungan sekitar. Cahaya masjid menerangi masyarakat sekitarnya hingga masuk ke celah-celah rumah, menembus dinding rumah dan dinding hati masyarakatnya. Ayat di bawah ini bisa memberikan jawaban bagaimana ciri-ciri masjid yang produktif beserta para pemakmurnya.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (At Taubah 8).

Menurut Hamim Thohari (2007), ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid sesuai dengan ayat dia atas adalah (1) beriman kepada Allah dan hari kemudian (visioner), (2) mendirikan shalat (berkarakter), (3) menunaikan zakat (pengembangan berkelanjutan), (4) tidak takut kepada siapapun kepada Allah  (konsisten). Sayangnya, semangat umat Islam pada umumnya belum betul-betul dengan semangat memakmurkan masjid seperti ayat tersebut. Umat Islam pada saat ini malah sering terjebak pada kemegahan bangunan masjid, kurang memperhatikan fungsi dan peran masjid.

Dari berbagai pemaparan di atas, dapat kita ambil benang merah bahwa untuk mengembalikan kejayaan Islam, maka masjid adalah pusatnya. Pada zaman Rasulullah SAW seperti yang dikutip Ahkam Sumadiana dari Kauzar Niazi (Role of the Mosque 1976), masjid telah difungsikan sebagai berikut

  1. Tempat ibadah, seperti shalat, dzikir, i’tikaf, dan sebagaianya
  2. Pusat dakwah
  3. Pusat keilmuan dengan berbagai  kegiatan pengajaran dan pendidikan lainnya, termasuk di dalamnya perpustakaan
  4. Tempat mengumpulkan dana
  5. Tempat latihan militer dan mempersiapkan alat-alat lainnya
  6. Tempat pengobatan para korban perang
  7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa serta musyawarah dan dialog
  8. Aula dan tempat menerima tamu
  9. Tempat menawan tahanan
  10. Sebagai tempat membina keutuhan jamaah kaum muslimin dan kegotongroyongan di dalam mewujudkan kesejahtraan bersma

Pemberdayaan masjid inilah salah satu faktor dimulainya masyarakat madani di Madinah yang menjadi rujukan utama berbabai peradaban. Masjid harus dibebaskan dari “belenggu” rutinitasnya yang hanya mengurusi peribadatan semata. Dan kita, bangsa Indonesia, memiliki potensi besar untuk mewujudkan kembali peradaban Madinah yang dicontohkan Nabi Muhammad. Jumlah masjid di Indonesia berjumlah kurang lebih dari 800.000 masjid (Republika, 2010). Belum lagi diambah mushola, surau, langgar dan sejenisnya. 88 % penduduk Indonesia juga beragama Islam (Pew Forum, 2010). Bayangkan jika semua sarana dan kekuatan yang kita miliki dipadukan untuk membangun masjid sebagi tempat utama kerja-kerja perbaikan umat bukan hanya ritual semua, niscaya tuntaslah semua persoalan yang mendera bangsa ini.

Dan kiranya kita perlu merenungi salah satu penggalan puisi Taufik Ismail tentang kerinduannya akan sebuah masjid, sebuah masjid yang senantiasa hidup, sebuah masjid pembangun peradaban

 

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka

dan pendapat bila berlainan namun tanpa pertikaian

dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan yang sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang mana

tumpas aku dalam rindu

mengembara mencarinya

di manakah dia gerangan letaknya

(Taufik Ismail, Mencari Sebuah Masjid)

 

 

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan