Berkelana di Rimba Raya Kalimantan


oleh : Eko Rizqa S

Berlatar ladang di tengah hutan

Berlatar belakang kawasan ladang berpindah milik penduduk Long Ampung

Kami berlima ditugaskan mengajar selama setahun di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Long Ampung nama tempatnya. Terletak di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Dari kota kabupaten dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan menggunakan pesawat perintis untuk menjangkaunya.

Salah satu pengalaman yang tidak akan terlupa adalah ketika ikut berwisata bersama siswa di hutan, di pinggiran sungai Tekuwau. Perjalanan sangat menguras energi karena harus naik turun bukit dan menerobos lebatnya pepohonan khas hutan hujan tropis. Di sepanjang perjalanan kulihat bekas lahan yang dibakar. Rupanya warga sekitar sedang membuka lahan baru. Kegiatan ini kita kenal dengan sebutan ladang berpindah. Jika sudah tidak bisa ditanami lagi, maka lahan tersebut dibiarkan saja dan kelak akan menjadi hutan kembali.

Penduduk sekitar membuka lahan seperlunya saja. Berbeda dengan kejadian pembakaran hutan untuk membuka lahan di wilayah lain yang tidak terkendali sehingga menimbulkan kabut asap. Begitu pula dengan kegiatan berburu. Mereka berburu seperlunya saja. Mereka berburu hanya untuk memvariasikan menu makanan dan jika ada hajatan besar. Itulah kearifan lokal masyarakat sekitar, memanfaatkan sumber daya alam secukupnya agar ekosistem hutan tetap lestari.

Setelah sampai tujuan, tenda langsung didirikan di tepi sungai. Malam harinya, kami berburu di tengah rintikan hujan. Aku berharap kijang bisa diperoleh, tetapi hanya kancil yang didapatkan. Meskipun demikian, aku sangat bersyukur karena bisa mendapatkan lauk untuk dimasak esok hari.

Berkeliling di sekitar perapian

Berkeliling di Sekitar Perapian

Malam itu hujan tidak henti-hentinya mengguyur. Kami mengelilingi perapian, mendekatkan telapak tangan dan telapak kaki ke api yang menyala. Kami bercerita tentang apa saja bersama siswa-siswi yang kuajar di sekolah. Tentang budaya Dayak Kenyah, pelajaran di sekolah, ataupun tentang cita-cita mereka. Dinginnya malam terkalahkan oleh hangatnya kebersamaan.

Sebelum pulang, rombongan mampir ke sebuah air terjun yang berada di hulu sungai. Jalan yang dilewati sangatlah terjal karena harus menyusuri tebing di atas sungai. Air terjun tesebut sungguh indah dipandang dan lubuk di bawahnya sangat menggoda untuk direnangi. Siswa yang lain merayuku agar ikut berenang. Aku akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam air padahal tidak bisa berenang. Ternyata dasar sungainya dalam dan akupun gelagapan di dalam air. Untung saja seorang siswa menolongku sehingga aku bisa selamat.

Air terjun di hulu sungai Tekuwau

Air terjun (atau mungkin jeram) di sungai Tekuwau

Aku yakin wilayah ini bisa lebih maju. Saat ini landasan pacu sedang diperpanjang sehingga bisa didarati pesawat yang lebih besar. Jalan darat juga sedang diperbaiki. Wilayah ini memiliki banyak objek wisata yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari keindahan alam, rumah adat yang menawan, tarian Dayak Kenyah yang mempesona, serta berbagai kearifan lokal yang dapat dipelajari.

Saat selesai penugasan dan pesawat melewati rimbunan pepohonan, kuingat petualanganku di hutan. Dari digigit pacet, berburu, membuat api unggun, tidur beralas dedaunan sampai hampir tenggelam. Banyak pengalaman kudapatkan. Cara pandangku juga berubah. Cara pandang tentang perbedaan budaya, arti persahabatan, serta hubungan manusia dengan alam. Tujuan sebuah perjalanan bukan hanya menghilangkan rasa jemu atau sekedar berfoto ria. Pendewasan sikap, penghargaan terhadap perbedaan serta cara pandang terhadap suatu hal baru adalah hikmah yang bisa kuambil. Terima kasih Borneo, terima kasih telah menjadi salah satu mozaik perjalanan terbaik dalam hidupku.

*Ditulis untuk mengikuti lomba travelmate National Geographic Indonesia

Iklan

About Eko Rizqa

Alumni SMA N 1 Kebumen dan Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Suka nulis dan jalan-jalan. Guru SM3T

Posted on 5 Maret 2016, in Backpacker, Hiburan, Inspirasi, Karya Tulis, SM-3T and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

%d blogger menyukai ini: