MENJAGA ASA DI TENGAH KETERBATASAN


oleh : Eko Rizqa S.

dimuat juga di http://jakartagreater.com/menjaga-asa-di-tengah-keterbatasan/

Bersama Danton pos PAMTAS Long Nawang

Bersama Danton Pos Long Nawang

Disini saya akan sedikit menceritakan kehidupan sehari-hari para prajurit penjaga perbatasan Indonesia di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia. Nama daerahnya adalah Apau Kayan, tepat di tengah-tengah jantung Kalimantan. Kebetulan saya juga bertugas menjadi guru SM3T yang bertugas setahun di perbatasan sehingga sering berinteraksi dengan para mereka.

Saat pertamakali bersilaturahmi ke pos PAMTAS (Pos penjaga Perbatasan) Long Ampung kesan yang saya dapatkan adalah miris. Bagaimana tidak, fasilitas yang dimiliki jauh dari kata layak. Listrik hanya menyala pada malam hari. Bangunan kayu yang sudah mulai lapuk. Senjata yang paling canggih pun masih senapan mesin ringan jenis FN Minimi.

Untuk sarana transportasi, hanya ada 1 motor trail untuk satu pos yang berjumlah 20 orang. Sehingga jika hendak bepergian ramai ramai kadang nebeng atau pinjam mobil yang dimiliki warga. Jika tidak kendaraan, terpaksa jalan kaki sampai ke kampung terdekat. Untuk pergeseran pasukan dan logistik dari Tarakan ke Long Ampung yang biasanya menggunakan helikopter Mi-17 buatan Rusia sekarang menggunakan pesawat perintis komersil. Hal ini disebabkan Heli Mi-17 tersebut ada yang jatuh dan mengalami kerusakan mesin. Mungkin diantara kita masih ada yang ingat tentang jatuhnya heli tersebut tahun lalu yang menewaskan penumpangnya. Nah itulah heli yang digunakan sebagai tulang punggung operasional disana. Selama ketidakadaan Heli tersebut otomatis pengiriman logistik dan pergerakan pasukan pun terganggu.

Kondisi jalan di perbatasan setelah diguyur hujan

dorong-dorong kalau musim hujan

Melihat kondisi seperti itu saya jadi membandingkan dengan kondisi pos perbatasan yang ada di film-film, hehe. Dimana semua fasilitas dilengkapi, dari transportasi yang memadai- ada helipad nya- sampai perlengkapan fitness. Tetapi meskipun kondisi serba kekurangan, jujur saya salut dan menaruh hormat kepada para tentara yang menjaga perbatasan. Mereka tetap melaksanakan tugas dengan baik dan sangat membantu pembangunan di perbatasan.

Kehebatan tentara kita yang bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan ternyata bukan isapan jempol. Itu saya buktikan di pos PAMTAS Long Nawang. Pos tersebut berjarak tempuh 2 jam dari Pos Long Ampung. Jika Pos Long Ampung dekat dengan kampung maka di Pos Long Nawang sama sekali tidak ada pemukiman peduduk, tidak ada warung, tidak ada sinyal, dan sumber air jauh. Meski demikian, tentara kita tetap enjoy. Tepat di seberang patok batas terdapat bangunan bekas pos tentara Diraja malaysia. Bangunan tersebut jauh lebih bagus daripada punya Indonesia tetapi sekarang ditinggalkan. Konon, tentara Malaysia tidak ada yang betah tinggal disitu karena tidak ada sinyal dan sumber air. Mendengar cerita tersebut, saya pun geleng-geleng kepala. Tentara Malaysia kok cemen betul.

Menenteng FN Minimi

Menenteng FN Minimi

Patok perbatasan Indonesia-Malaysia. Bangunan di belakang adalah pos Malaysia yang sudah kosong

di patok perbatasan Indonesia-Malaysia

Tentara yang kelihatan dari luar sangar ternyata sangat ramah. Mereka sangat senang jika kedatangan tamu dari luar karena dapat dijadikan teman ngobrol dan saling bertukar pandangan tentang berbagai macam hal. Kadang saya sampai tidak enak sendiri jika sedang main di Pos tentara karena sering disuguhi makanan. Sampai-sampai jatah lauk ayam yang sebenarnya sulit didapatkan disana diberikan ke kita. Terimakasih ya, hehe.

Ada kisah menarik saat mereka mengecek patok perbatasan di tengah hutan. Sempat ada was-was dari prajurit yang ditinggal di pos karena dari jadwal semula 14 hari sampai hari ke -20 belum ada kabar. Dikhawatirkan mereka tersesat atau mengalami kecelakaan di tengah hutan hujan tropis kalimantan. Akhirnya 3 orang menyusul mereka ke tengah hutan, tidak lama kemudian saat rombongan penyusul tersebut baru jalan sebentar ternyata lansung bertemu rombongan pertama. Syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Penyebab molornya rombongan pertama karena medan yang ditempuh sangatlah sulit. Menembus hutan hujan tropis kalimantan yang merupakan salah satu hutan terlebat di dunia amatlah susah. Lintah mengintai sepanjang perjalanan, pepohonan sangat rapat sehingga menyusahkan untuk berjalan, siang haripun matahari tidak bisa menembus karena dedaunan amatlah rimbun. Setelah stok makanan yang dibawa habis, merekapun survival dengan makan apa saja yang mereka temui di hutan, entah kijang, ular, ataupun monyet. Meskipun tentara sudah membawa peta, GPS, maupun kompas, itu kurang berguna lagi jika berada di hutan kalimantan yang masih perawan Para tentara juga dipandu oleh penujuk jalan lokal. Jika tidak, mereka pasti tersesat dan entah kapan bisa kembali..

Salah satu bandara perintis di perbatasan yang dikelilingi hutan lebat. nama daerahnya datadian, kecamatan kayan hilir, Malinau

Bandara perintis di Datadian Kayan Hilir Malinau

Selain tugas rutin menjaga perbatasan, para tentara juga turut membantu pembangunan masyarakat perbatasan. Mereka melaksankan program bakti sosial, penyuluhan lomba-lomba dan sebaginya. Selain itu turut mengerjakan pembanguan jalan desa dan pembangunan bandara perintis yang kelak bisa disinggahi pesawat Hercules. Mereka bersama kami, guru SM3T, juga melatih siswa SD untuk upacara bendera, kegiatan MOS, Paskibra dan sebagainya.

Melihat itu semua, saya mengharapkan perhatian lebih dari Kementrian Pertahanan untuk bisa meningkatkan fasilitas militer di perbatasan. Dari infrastrukur sampai kendaraan harap ditingkatkan agar kegiatan operasional di perbatasan lebih baik. Saya bermimpi jika pos perbatasan tersebut kelak dilengkapi dengan panser, drone, helikopter, atau malah rudal R-han. Tentunya negara Sonora berpikir 1.000 kali untuk macam-macam dengan negara kita.

Tetap semangat dan terimakasih pengabdianmu di tengah keterbatasan.

Sebelum selesaikan tugas negara, Tetaplah Bertahan dan Bersiapsiagalah!

Oleh : Eko Rizqa, Guru SM3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Bakti Sosial di SMA

Pemeriksaan kesehatan di SMA

CIMG1171

Tentara PAMTAS

CIMG1176

Nyantai dulu

???????????????????????????????

upacara 17 agustus di perbatasan

Tentara ternyata bisa gokil juga

Bergaya dulu setelah tugas

Sholat Idul Fitri di bandara Long Ampung

Sholat Idul Fitri di bandara Long Ampung

Sang Merah Putih gagah Berkibar

Sang Merah Putih gagah Berkibar

Salah satu desa terdepan di perbatasan, Long Betaoh

Salah satu desa terdepan di perbatasan, Long Betaoh

Mengajar PBB siswa SMA

Latihan PBB bareng siswa

persiapan upacara 17 Agustus di Perbatasan

persiapan upacara 17 Agustus di Perbatasan

Lomba volley tentara PAMTAS lawan SMA n 9 Malinau Long Ampung

omba volley tentara PAMTAS lawan SMA n 9 Malinau Long Ampung

Lomba volley di pos PAMTAS Long Ampung

Lomba volley di pos PAMTAS Long Ampung

Latihan Paskibra

Latihan Paskibra

foto kenang-kenangan terakhir sebelum berpisah

foto kenang-kenangan terakhir sebelum berpisah

gardu pandang di pos PAMTAS Long Ampung

gardu pandang di pos PAMTAS Long Ampung

disuguhi makan siang, terimakasih pak tentara

disuguhi makan siang, terimakasih pak tentara

Foto bersama anggota Paskibra, camat, dan tim pelatih

Foto bersama anggota Paskibra, camat, dan tim pelatih

Baca juga :

Perjalanan Guru SM3T Malinau

Para patok hidup perbatasan

Iklan

About Eko Rizqa

Alumni SMA N 1 Kebumen dan Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Suka nulis dan jalan-jalan. Guru SM3T

Posted on 7 Desember 2014, in Backpacker, Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

%d blogger menyukai ini: