Mendisiplinkan Jadwal harian Anak-anak


oleh : Rofiah Akbar, M.Psi (Psikolog SDIT Ibnu Abbas Kebumen)

Masih teringat ketika suatu ketika ada ibu-ibu yang berkeluh kesah pada saya “wah..sekarang repot bu, anak-anak pulangnya makin sore, mereka tak ada waktu lagi untuk bermain, tak bisa ikut ngaji lagi di masjid dekat rumah”. Beberapa orangtua banyak yang mengeluhkan hal serupa. Tapi sungguh ada hal yang kontradiktif, ketika beberapa minggu yang lalu saya memanggil beberap siswa kelas 4 dan 5 dan saya ajak dialog mengenai jadwal harian dirumah. Ada beberapa data yang membuat saya agak miris. Data yang saya dapat langsung dari siswa coba untuk share pada ayah dan bunda semua yakni:

  1. Sebagian besar siswa yang saya panggil ternyata memiliki kebiasaan sepulang sekolah langsung bermain dan pulang kerumah menjelang magrib atau bahkan bertepatan dengan adzan magrib.
  2. Kebiasaan ananda belajar pada pukul 20.00-20.30/21.00 WIB, dalam kondisi sudah mengantuk.
  3. Banyak siswa yang sekarang sudah kecanduan dunia maya (games online, facebook, twitter dll).

Dari data diatas, sepertinya kita sebagai orangtua wali perlu mengevaluasi jadwal rutinitas harian ananda. Ya…bisa saya fahami bahwa sekolah di SDIT dengan sistem full day memang sudah membuat ananda lelah. tapi bukan berarti sepulang sekolah ananda kita biarkan begitu saja bermain-main dan pulang sampai menjelang magrib. Karena fondasi kebiasaan untuk hidup tertib/ disiplin sampai dewasa dimulai sejak dini.jadi apa yang harus kita rubah?

ImageAyah dan bunda…disiplin adalah proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu. Terutama, yang meningkatkan kualitas mental dan moral. Jadi, inti dari disiplin ialah membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan aturan yang ada dilingkungannya.

Tujuan awal dari disiplin ialah membuat anak terlatih dan terkontrol. Untuk mencapai itu, ayah dan bunda harus mengajarkan kepada anak bentuk tingkah laku yang boleh dan tidak boleh termasuk dalam mengatur jadwal harian sampai pada akhirnya, anak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Ketika sudah berdisiplin, anak dapat mengarahkan dirinya sendiri tanpa pengaruh atau pun disuruh oleh orang lain. Dalam pengaturan diri ini berarti anak sudah mampu menguasai tingkah lakunya sendiri dengan berpedoman pada norma-norma yang jelas, standar-standar dan aturan-aturan yang sudah menjadi milik sendiri.  Disiplin juga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Untuk itu, orangtua harus secara aktif dan terus menerus melakukan pendisiplinan itu. Atau, secara bertahap mengembangkan pengendalian dan pengarahan diri sendiri itu kepada anak.

Cara yang paling baik mendisiplinkan anak ialah dengan menggunakan pendekatan yang positif. Misal:

  1. Memberikan teladan: sebagai orangtua kita adalah contoh untuk anak-anak kita. Jadi sebelum kita meminta ananda melakukan suatu bentuk perilaku, berilah contoh dahulu. Misalnya, ketika mengharapkan anak pulang sekolah meletakkan sepatu pada tempatnya ,pastikan bahwa anak juga melihat ayah dan bunda juga melakukan hal yang sama. Sehingga dengan sendirinya ananda akan mencontoh orangtuanya.
  2. Beri dorongan /Pujian dan hadiah: untuk menguatkan perilaku positif ananda maka bisa kita kita berikan hadiah dan pujian dengan harapan anak akan mengulang perilaku positifnya.
  3. Berkomunikasi: senantiasa ajak anak kita berdialog dalam menentukan aturan-aturan di rumah. Misalnya, ketika kita ingin mendisiplinkan kebiasaan bermain ke warnet/ game online, maka ajaklah anak kita mendiskusikan durasi waktu dan kapan mereka bisa ke warnet.  Ketika sebuah aturan berdasarkan kesepakatan orangtua-anak maka anak akan merasa dihargai, selain itu ayah dan bunda juga lebih mudah dalam meminta pertanggungjawaban pada anak ketika suatu saat melanggar aturan.
  4. Punishment: poin ini ada kaitannya dengan poin ke 3, ketika kita dialog dengan ananda masalah peraturan maka upayakan juga tercapai kata sepakat masalah punishment/ hukuman yang akan diberlakukan ketika ananda melanggar. Yang perlu ayah dan bunda ingat bahwa punishment yang tidak dianjurkan adalah yang melukai fisik dan psikis anak seperti memukul atau memarahi secara verbal. Bentuk punishment yang bisa ayah dan bunda terapkan misalnya: mengurangi jatah kesenangan anak (seperti menonton TV, jam bermain, uang jajan). Alternatif punishment yang lain adalah dengan memberlakukan time out. Istilah time out dalam bahasa kita sehari-hari adalah di Skors atau ada beberapa yang menyebut di”Strap”. Caranya adalah anak diminta berdiri di sudut ruangan selama beberapa saat (lama waktu time out disesuaikan usia anak, dengan hitungan 1 tahun usia anak=1 menit, misal anak 5 tahun maka lama skors 5 menit). Pastikan kita tetap bisa mengawasi apa yang dilakukan anak kita saat pelaksanaan time out dengan tanpa mengajaknya berbicara, dengan harapan anak akan menyadari konsekuensi atas tindakan negatif yang dilakukan.
  5. Konsistensi: kunci terakhir kita ingin ananda disiplin adalah, pastikan kita konsiten. Konsisten menjadi catatan yang amat penting karena point ini adalah dasar penentuan suatu program akan sukses dilaksanakan atau tidak kepada anak-anak kita. Tanpa konsistensi, kita tidak akan mengubah apa-apa. Mengapa? Karena anak-anak kita akan menganggap hal yang kita sampaikan itu tidak sungguh-sungguh. Ayah bunda…ada beberapa hal yang harus kita konsistenkan dalam pengasuhan yakni:
  6. Jenis kata-kata dan aturan
  7. waktu (hari ini dan esuk harus sama)
  8. Antar-orang (pola pengasuhan harus sama antara ayah, bunda dan orang dewasa disekitar anak seperti pengasuh, nenek atau yang lain.
  9. Antar –tempat (pola pengasuhan antara di rumah dengan disekolah atau ditempat lain harus sama/ selaras.

Demikian ayah dan bunda…semoga kita bisa terus mengaplikasikan dan membimbing buah hati menjadi pribadi yang disiplin, wallohu’alam.

Iklan

About Eko Rizqa

Alumni SMA N 1 Kebumen dan Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Suka nulis dan jalan-jalan. Guru SM3T

Posted on 12 April 2013, in Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

%d blogger menyukai ini: