Beginilah Seharusnya Politisi Muslim


Oleh : Eko Rizqa S

Politik itu memiliki dua sisi. Satu sisi dia adalah alat untuk mengubah, tapi di sisi lain juga dunia yang penuh dengan konflik. Jadi kalau kita ingin mencapi satu tujuan, menciptakan perubahn yang besar itu,kita mesti melalui proses panjang dan berkonflik-konflik. Sisi pertama sebagai alat untuk melakukan perubahan mengharuskan seseorang menjadi idealis. Bekerja untuk tujuan yang mulia. Lebih besar dari dirinya sendiri. Lebih besar dari kepentingan pribadinya. Lebih besar dari kepentingan kelompoknya. Dia bekerja untuk kepentingan yang sangat berjangka panjang. Jadi dia sangat idealis.

Dan untuk  menciptakan suatu perubayhan yang jangka panjang, diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat, tentang negara, tentang ekonomi, tentang pertahanan, tentang apa saja. Jadi dia harus idealis dan berpengetahuan. Karena bernegara itu berarti mengelola orang dalam skala yang amat besar, dan bahwa politik itu pada dasarnya organisasi manusia, maka seorang politisi itu harusnya mempunyai kemampuan dasar sebagai pemikir.  Jadi, dia seorang idealis, dia berpengetahuan, dan dia seorang pemikir. Lalu, dia juga seorang organizer. Punya pengetahuan yang mendalam tentang leadership , tentang orang, tentang komunikasi.

Itu sebabnya kalau kita membuka buku-buku tentang Fiqh Siyasah Syar’iyah, syarat pertama seorang imam adalah ilmu. Dia harus punya ilmu. Di hampir semua buku-buku Fiqh Siyasah Syar’iyah yang ditulis oleh Abu Ya’la, Al Mawardi, Imam Al-Haramain, Al-Juwaini, mereka memasukkan syarat seorang Imam adalah berilmu, mujtahid, dan cerdik. Tetapi politik sebagai proses, pekerjaan utamanya adalah mengelola kepentingan yang berbeda-beda, akal yang berbeda-beda, hati yang berbeda-beda, etnis yang berbeda-beda, budaya yang berbeda-beda. Semua perubahan ini harus dikelola dalam sebuah proses.

Jadi kalau yang pertama dibutuhkan ketrampilan yang disebut managing change, maka yang kedua ini dibutuhkan ketrampilan lain yang namanya managing conflict. Oleh karena itu ulama-ulama kita mensyaratkan bahwa seorang Imam harus berilmu, mujtahid, dan cerdas, dia juga harus punya dua sifat lainya: keberanian (syaha’ah) dan pembela (syahamah). Berani pasang badan, berani mengambil resikio bagi komunitas yang dipimpinnya. Jadi, lima kriteria itu merupakan satu paket yang harus mendekat pada sifat-sifat politisi.

Kebanyakan kita kaum muslimin tidak memabca Siyasah Syar’iyah in dengan baik, dan tidak membaca Qur’an dalam perspektif ini dengan baik. Karena kita mewarisi suatu penyakit masa lalu, dari abad kemunduran, yaitu penyakit split, pemisahan-pemisahan. Yang pertama kita pisahkan dunia dan akhirat, setelah itu kita memisahkan agama dan negara. Setelah itu kita pisahkan dakwah dan politik. Setelah itu lita memisahkan lagi gerakan dakwah dan partai politik dalam tabiat organisasinya. Setelah itu kita pisahkan lagi ulama dan umara. Maka yang ulama di antara kita tidak punya pengetahuan tentang negara, dan yang umara diantara kita tidak punya pengetahuan tentang agama.

Jadi waktu kita berinteraksi dengan politik penyakit pemisahan/split ini muncul dan berpengaruh dalam cara kita berpersepsi. Maknya kita mulai memisahkan idealisme dan pragmatisme. Dan kita menganggap bahwa politik hanya punya satu wajah, yaitu politik sebagai alat perubahan. Kita lupa bahwa politik punya sisi yang lain. Yaitu politik sebagai alat pengelola kepentingan yang mengandung konflik-konflik, pertarungan-pertarungan.

Seorang politisi Muslim harus punya sifat yang cerdik dan pemberani. Bukan hanya berani, tapi juga cerdik, sehingga tahu tipu daya orang. Dan, menggabungkan ini semua dalam kerangka menjadikan politik sebagai alat perubahan. Di tingkat yang lebih fundamental bagaimana mengintegrasikan ketrampilan-ketrampilan itu di dalam diri kita. Umar bin Khattab berkata, “Saya bukan seorang penipu, tapi tak ada penipu yang bisa menipu saya.” Masalahnya kita orang Islam ini banyak yang menjadi kumpulan orang-orang shalih yang mudah diajak berteman tapi juga mudah ditipu. Kita berpikir yang penting bukan kita yang menipu orang lain. Padahal dalam Islam tidak boleh menipu dan tidak boleh tertipu. Islam datang dan mengintegrasikan hal-hal ini semua.

Islam datang pertama kali mengintegrasikan sistem waktu kita dengan mengkoneksikan dunia dan akhirat. Setelah itu agama dan negara, setelah itu dakwah dan politik, setelah itu sifat organisasinya. Sifat oganisasi dakawah itu gabungan antara organisasi dakwah dan organisai politik. Setelah itu turunannya lebih lanjut pada ketrampilan-ketrampilannya. Kita harus mengembalikan era integrasi yang diajarkan Islam kepada kita dan merinci konsep tentang integrasi itu mulai dari tingkat ideologi sampai pada tingkat ketrampilannya. Dan, begitu kita mampu mengintegrasikan ini semua, kita bisa bekerja dengan sangat luar biasa berbasis Al Qur’an dan sunnah yang kita miliki.

Dirangkum dari artikel Anis Matta pada Majalah Tarbawi Edisi 273. 5 April 2012

Iklan

About Eko Rizqa

Alumni SMA N 1 Kebumen dan Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Suka nulis dan jalan-jalan. Guru SM3T

Posted on 13 April 2012, in Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

%d blogger menyukai ini: