Membangun Kedaulatan Ekonomi Bangsa melalui Ekonomi Kerakyatan


 

 

 

 

 

oleh : Eko Rizqa S.*
Dalam kepungan agenda ekonomi liberal yang kian menghantam Indonesia, wacana dimunculkannya kembali ekonomi kerakyatan menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Perbincangan tidak hanya berlangsung di ruang-ruang diskusi kaum intelektual, tetapi juga diminati pula masyarakat awam. Wacana ekonomi kerakyatan yang telah lama mati suri kini mulai bangkit lagi dan menjadi alternatif dalam membangun kedaulatan ekonomi bangsa ini.

Secara historis, wacana ekonomi kerakyatan sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Salah satu pengusung utamanya adalah Bung Hatta. Dalam salah satu pamflet yang berjudul “Menuju Indonesia Merdeka” Bung Hatta secara detail menjelaskan kerakyatan, demokrasi, dan arti penting demokrasi ekonomi sebagai salah satu pilar demokrasi sosial yang dipandangnya cocok bagi Indonesia merdeka. Mengenai kerakyatan sendiri, Bung Hatta menulis:
“Azas kerakyatan mengandung pengertian bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Segala hukum (recht, peraturan perundang-undangan) harus bersandar pada perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dalam hati rakyat banyak, dan aturan penghidupan haruslah sempurna dan berbahagia buat rakyat kalau ia beralasan kedaulatan rakyat. Asas kedaulatan rakyat inilah yang menjadi sendi pengakuan oleh segala jenis manusia yang beradab bahwa tiap-tiap bangsa memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri “(Hatta, 1932).

Menurut Revrisond Baswir, ada dua tujuan ekonomi kerakyatan berdasar tulisan diatas. Tujuan jangka pendek adalah untuk menghapuskan penggolong-golongan status sosial ekonomi dalam suatu masyarakat, baik berdasarkan ras atau penguasaan alat-alat produksi. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah untuk mengoreksi struktur ekonomi kolonial secara mendasar, yaitu untuk mengutamakan kemakmuran masyarakat di atas kemakmuran orang seorang dan untuk mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.
Karakter utama dari ekonomi kerakyatan adalah dihilangkannya watak individualistik dan liberalitik dari jiwa perekonomian Indonesia. Sedangkan misi utama dari ekonomi kerakyatan adalah meningkatkan kemandirian ekonomi sosial dan menjadikan rakyat sebagi tuan rumah di negeri sendiri. Hal ini tidak serta merta menjadikan sistem perekonomian ini tertutup, tetapi justru terbuka. Hal yang tidak dikehendaki dari sistem ini adalah tidak menempatkan Indonesia pada subordinasi ekonomi asing. Artinya adalah kerjasama yang dilakukan antar bangsa haruslah saling menguntungkan (Baswir,2009).

Masa kolonialisasi secara fisik sudah berakhir tetapi kolonialisasi dalam bidang lain masih saja terjadi, terutama dalam bidang ekonomi. Setelah Indonesia merdeka, pihak-pihak asing kembali menyusun siasat baru untuk menguasai Indonesia meski tidak lagi secara langsung. Mereka mempunyai kepentingan besar dalam bidang ekonomi karena Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi sangat besar dalam bidang sumber daya maupun jumlah penduduk. Dalam catatan sejarah, sudah banyak bukti yang menggambarkan sistematisnya mereka mengintervensi kondisi perekonomian dengan berbagai macam kedok, melalui utang luar negeri, dana pinjaman dan sebagainya. Sistem perekonomian yang cenderung liberal saat ini ternyata menimbulkan kerugian bagi Indonesia. Kekayaan negeri ini hanya bisa dinikmati para kaum pemilik modal yang jumlahnya hanya segelintir, dengan mengorbankan hak rakyat kebanyakan.

Kondisi saat ini tentu bertolak belakang dengan cita-cita dan arah gerak Indonesia yang merdeka. Jika kita meninjau kembali UU 1945 Pasal 3, kita akan menjumpai substansi ekonomi kerakyatan terdapat di 3 ayat yang terkandung di dalam pasal itu. Pada ayat pertama dijelaskan azas yang digunakan adalah azas kekeluargaan. Artinya, dalam sistem ekonomi kerakyatan, setiap pelaku ekonomi di Indonesia harus melihat diri mereka adalah bersaudara. Sebab itu dalam rangka mencapai kemakmuran bersama, mereka harus berusaha untuk bekerjasama dan saling membantu (Hatta,1970).

Dalam ayat 2 disebutkan bahwa cabang-cabang produksi yang penting dikuasai oleh negara dan yang mengusai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Hal ini tidak berarti bahwa semua pekerjaan tersebut harus pemerintah yang menjalankan, tetapi dapat diserahkan ke lembaga/badan lain yang memiliki manajemen yang cakap dan kompeten. Tugas pemerintah disini adalah untuk memonitoring dan mengevaluasi mengawasi kinerja badan usaha tersebut. Sedangkan dalam ayat 3 menekankan bahwa segala kekayaan alam yang ada dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.  Dalam konteks ini, bukan berarti negara sebagai penguasa, tetapi sebagai penjamin bahwa kekayaan alam yang ada digunakan sepenuh-penuhnya untuk kemakmuran rakyat.

Walaupun negara memainkan peranan kunci dalam sistem ekonomi kerakyatan tapi tidak berarti mengabaikan efisiensi dan anti-pasar. Efisiensi dalam sistem ekonomi kerakyatan tidak hanya dipahami dalam perspektif jangka pendek dan berdimensi keuangan, melainkan dipahami secara utuh dengan memperhatikan baik aspek kauantitatif dan kualitatif, aspek keuangan dan non-keuangan, maupun aspek keadilan lingkungan. Dengan demikian, politik ekonomi kerakyatan tidak hanya dibangun dengan memuliakan nilai-nilai ekonomi tetapi juga memuliakan nilai-nilai sosial dan moral, serta nilai-nilai keadilan lingkungan (Baswir,2009).

Seperti diketahui bersama, neokolonialisme bidang perekonomian telah menusuk jauh ke jantung perekonomian Indonesia, tetapi harapan tetaplah ada dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan yang diyakini sebagai jati diri perekonomian Indonesia. Kita bisa melihat bahwa bukanlah hal yang mustahil kapitalisme-sebagai musuh utama ekonomi kerakyatan-bisa dikalahkan. Mencuatnya perlawanan dari negara Asia dan Amerika Latin menentang hegemoni AS semakin menampakkan hasil, kebangkitan China sebagai penyeimbang perekonomian dunia juga menunjukkan bahwa kapitalisme bukan satu-satunya perekonomian yang terbaik. Belum lagi krisis keuangan global yang menunjukkan bahwa ada yang salah dalam sistem perekonomian yang telah dipakai selama ini menunjukkan bahwa diperlukan sebuah sistem ekonomi alternatif yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia, salah satunya adalah sistem ekonomi kerakyatan.

Diperlukan upaya kerja keras dan kesamaan visi diantara semua pemangku kebijakan agar implementasi ekonomi kerakyatan sebagai tulang punggung sistem perekonomian bisa dicapai. Untuk penerapan jangka panjang perlu dibuat blue-print yang kompeherensif dan holistik yang menyangkut kepentingan semua pihak dan tidak meninggalkan tujuan utama yaitu kemakmuran rakyat. Dengan kerja keras semua pihak serta dukungan masyarakat, maka niscaya terciptanya kedaulatan ekonomi bangsa kemakmuran rakyat bukanlah lagi impian. Ekonomi kerakyatan akan menjadi sebuah kenyataan yang akan terjadi untuk menuju Indonesia yang merdeka seutuhnya.

Iklan

About Eko Rizqa

Alumni SMA N 1 Kebumen dan Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Suka nulis dan jalan-jalan. Guru SM3T

Posted on 28 Februari 2012, in Pemikiran. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. keren mas postingnya. he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

%d blogger menyukai ini: