Monthly Archives: Januari 2012

Meninjau Kembali SBI

Akhir-akhir ini santer diberitakan bahwa Sekolah Berstandar Internasional (SBI) gagal diterapkan di Indonesia. Biaya yang dikeluarkan wali murid tidak sepadan denagn kualitas pendidikan yang dijanjikan. Bahkan banyak diantaranya hanya mengubah bahasa pengantar menjadi bahasa Inggris tanpa meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Sungguh memprihatinkan.
Dari awal konsep perencanaaannya, SBI sudah bermasalah. SBI telah melanggar konstitusi dalam UUD 1945. Konstitusi menyebutkan bahwa pemerintah harus membuat satu sistem pendidikan nasional, sedangkan SBI menimbulkan diskriminasi dan kastanisasi. SBI hanya akan membuat sisiwa terkotak-kotakkan sesuai dengan kemampuan finansialnya. Siswa yang nyatanya bagus secara akademik tidak akan mendapatkan pendidikan yang terbaik hanya karena keterbatasan finansial.
Pemerintah seharusnya meninjau kembali konsep pendidikan yang mengkotak-kotakkan siswa sesuaai kemampunan finansial. Jika sekolah tersebut adalah sekolah swasta tentu tidak bermasalah. Namun, jika sekolah tersebut adalah sekolah negeri yang tentu saja masih disubsidi pemerintah, pengkotak-kotakan ini akan menimbulkan kecemburuan sosial diantara para siswa.
Program sekolah gratis yang pernah digembor-gemborkan jangan hanya retorika semata. Kualitas pendidikan yang terbaik harus dinikmati oleh semua kalangan dari seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Fokus sekolah tidak lagi berlomba-lomba pada jumlah SPP yang ditarik tetapi berlomba-lomba menghasilkan output yang berkualitas. Dengan demikian, amanat Pembukaan UUD 1945 agar negara dapat mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terealisasikan, tidak hanya sekedar menjadi harapan kosong yang hanya didengung-dengungkan.
Iklan

KUPU KUPU DI DALAM BUKU

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya
di negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya
di perpustakaan negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya
di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya
di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,
Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.
Taufiq Ismail, 1996.

Belajar dari Mereka yang Bersyukur

oleh: Eko Rizqa S

Galau, kata yang sekarang sedang popular tersebut sepertinya kini sedang kualami. Wajahku murung seharian ini. Gara gara galau juga, sekarang aku lebih rajin shalat berjamaah di masjid dan lebih rajin pula tilawah. Tujuannya satu, agar rasa galau tersebut bisa hilang dan mudah mudahan diberikan solusi yang pas. Sebenarnya niat lebih rajin shalat berjamah, lebih rajin tilawah agar masalah hilang itu tidaklah tepat. Niat kita lebih rajin beribadah kita ke Tuhan haruslah didasari landasan ketakwaan, dan landasan kesadaran sebagi suatu fitrah dan kewajiban sebagai seorang makhluk kepada Rabb nya. Tapi begitulah manusia, mendekat kepada Tuhan nya jika mendapat masalah. Lalu menjauh lagi ketika masalah tersebut sudah selesai.

Kali ini, ketika hendak shalat berjamah di masjid Al Falah, dekat UNY, ku melihat sepeda jengki berisi 2 rombong milik seorang pedagang tape. Sepeda itu baru pertama kulihat, mungkin dia adalah pedagang keliling yang sedang berjaualan di sekitar sini. Sepeda tersebut diparkirkan di sebelah utara dinding masjid. Kurasa dia juga akan shalat berjemaah di masjid ini. Selesai shalat, ku berjalan menuju motorku yang terparkir di samping masjid. Kulihat pedagang tersebut akan bergegas pergi berjualan kembali. Umurnya 50 an tahun, memakai caping anyaman bambu, berbaju hem putih dan bercelana biru yang sudah mulai luntur warnanya. Sandalnya sandal jepit berwarna cerah. Dari sudut manapun kita memandang apa-apa yang dikenakannya tidak matching satu sama lain. Tapi ada yang membuatku penasaran ingin terus melihatnya. Wajahnya cerah, senyum tergulung, ada semacam aura yang terpancar saat melihat raut mukanya.

Sejurus kemudian, seorang datang hendak membeli tape yang dijualnya. Calon pembeli itu adalah jemaah sholat yang baru keluar. Terus kuperhatikan mereka, entah kenapa aku ingin melihatnya. Pedagang tadi tersenyum saat melayani pembeli. Saat pembeli tadi sudah pergi iapun masih menyunggingkan senymnya. Setelah ia memberesi barang dagangannya dan pergi akupun turut pergi. Selama perjalanan pulang aku masih memikirkan peristiwa tadi. Peristiwa tersebut sebenarnya bukanlah peristiwa yang luar biasa hanya kali ini aku ingin merenungkannya.

Kepalaku kudongakkan ke langit, aku berusaha merenungkannya. Di zaman ini, jarang ada pedagang seperti dia. Pada zaman sekarang, pada saat adzan berkumandang masih banyak pedagang yang terus meneruskan aktivitasnya. Bahkan para pedagang yuang letaknya hanya sepelemparan batu dari masjid, acuh tak acuh saat adzan berkumandang. Lebih miris lagi,saat khatib sudah naik mimbar di waktu shalat jumat, para pedagang yang ada di sekitar masjid masih tenang-tenang saja melayani pembelinya. Saat kulihat senyumnya yang merekah selesai sholat dan seusai melayani pembeli aku tersadarkan. Bukankah pedagang tersebut memiliki kehidupan yang lebih keras dari aku. Setiap hari berkeliling entah panas atau hujan untuk menjajakan dagangannya. Tapi ia masih bisa shalat berjamah di masjid, masih bisa tersenyum di tengah rasa penat yang menderanya.

Saat itu aku menjadi malu. Rasa galau yang menderaku bukanlah apa apa dibandingkan kehidupan keras yang dialami pak tua itu. Aku menajdi rajin shalat berjamah, rajin tilawah kalau sedang ada masalah. Wajahku menjdi murung gara gara masalah yang sedang kualami. Beda dengan pedagang itu, wajahnya teduh, penuh syukur dan menyejukkan walau kehidupannya keras. Yah, saat itu kusadar bahwa masalah yang dihadapi janganlah dihadapi dengan muka masam. Jangan pula tiba-tiba sok alim saat menghadapai masalah. Janganlah menjadi manusia yang tak tahu diuntung, saat masalah mendekat kita rajin beribadah, saat kesenangan datang kita lupa kepada Nya. Tuhan melaknat orang-orang opurtunis semacam itu. Konsistenlah beribadah, beramal, dan berdoa kepadaNya baik dalam keadaan susah maupun senang, baik kaya maupun fakir, baik lapang maupun sempit. Terimakasih pak pedagang tape. Terimakasih menyadarkanku.

Dalam sukar hitunglah kesyukuranmu,
Setitik derita melanda, segunung kurniaanNya
(Saujana, Lukisan Alam)

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan