Monthly Archives: September 2011

Membangun Kembali Perdaban Islam dari Masjid

Ada sebuah kisah menarik dari kisah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Seyogyanya orang yang berpindah ke tempat baru, maka hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah membAngun tempat tinggal yang baru. Akan tetapi bagi Rasulullah, membangun masjid ternyata lebih penting. Dalam Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa Rasulullah menumpang terlebih dahulu di rumah salah seorang penduduk Ansar selama 7 bulan. Setelah pembangunan masjid selesai barulah Rasulullah membangun rumah beliau di Madinah. Mengapa Rasulullah lebih mendahulukan masjid? Bagi Nabi, fungsi masjid bukan hanya tempat beribadah semata. Nabi Muhammad berpikir visioner. Zaman islam yang gilang-gemilang akan dimulai dari sini. Masjid benar-benar dimakmurkan pada saat itu. Tidak hanya untuk shalat 5 waktu saja, tetapi kerja-kerja membangun peradaban dipusatkan di sini

Tetapi sayang, umat Islam sekarang sepertinya kurang mengambil spirit dari sirah di atas. Kebanyakan masjid saat ini sebatas difungsikan untuk kegiatan ibadah saja. Padahal banyak aktivitas produktif yang bisa dilakukan di masjid, dari diskusi ilmiah sampai pembangunan ekonomi umat. Semua bisa dilakukan di masjidi.  Seharusnya pengaruh masjid tidak hanya pada jamaah shalat saja tetapi mampu menyinari lingkungan sekitar. Cahaya masjid menerangi masyarakat sekitarnya hingga masuk ke celah-celah rumah, menembus dinding rumah dan dinding hati masyarakatnya. Ayat di bawah ini bisa memberikan jawaban bagaimana ciri-ciri masjid yang produktif beserta para pemakmurnya.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (At Taubah 8).

Menurut Hamim Thohari (2007), ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid sesuai dengan ayat dia atas adalah (1) beriman kepada Allah dan hari kemudian (visioner), (2) mendirikan shalat (berkarakter), (3) menunaikan zakat (pengembangan berkelanjutan), (4) tidak takut kepada siapapun kepada Allah  (konsisten). Sayangnya, semangat umat Islam pada umumnya belum betul-betul dengan semangat memakmurkan masjid seperti ayat tersebut. Umat Islam pada saat ini malah sering terjebak pada kemegahan bangunan masjid, kurang memperhatikan fungsi dan peran masjid.

Dari berbagai pemaparan di atas, dapat kita ambil benang merah bahwa untuk mengembalikan kejayaan Islam, maka masjid adalah pusatnya. Pada zaman Rasulullah SAW seperti yang dikutip Ahkam Sumadiana dari Kauzar Niazi (Role of the Mosque 1976), masjid telah difungsikan sebagai berikut

  1. Tempat ibadah, seperti shalat, dzikir, i’tikaf, dan sebagaianya
  2. Pusat dakwah
  3. Pusat keilmuan dengan berbagai  kegiatan pengajaran dan pendidikan lainnya, termasuk di dalamnya perpustakaan
  4. Tempat mengumpulkan dana
  5. Tempat latihan militer dan mempersiapkan alat-alat lainnya
  6. Tempat pengobatan para korban perang
  7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa serta musyawarah dan dialog
  8. Aula dan tempat menerima tamu
  9. Tempat menawan tahanan
  10. Sebagai tempat membina keutuhan jamaah kaum muslimin dan kegotongroyongan di dalam mewujudkan kesejahtraan bersma

Pemberdayaan masjid inilah salah satu faktor dimulainya masyarakat madani di Madinah yang menjadi rujukan utama berbabai peradaban. Masjid harus dibebaskan dari “belenggu” rutinitasnya yang hanya mengurusi peribadatan semata. Dan kita, bangsa Indonesia, memiliki potensi besar untuk mewujudkan kembali peradaban Madinah yang dicontohkan Nabi Muhammad. Jumlah masjid di Indonesia berjumlah kurang lebih dari 800.000 masjid (Republika, 2010). Belum lagi diambah mushola, surau, langgar dan sejenisnya. 88 % penduduk Indonesia juga beragama Islam (Pew Forum, 2010). Bayangkan jika semua sarana dan kekuatan yang kita miliki dipadukan untuk membangun masjid sebagi tempat utama kerja-kerja perbaikan umat bukan hanya ritual semua, niscaya tuntaslah semua persoalan yang mendera bangsa ini.

Dan kiranya kita perlu merenungi salah satu penggalan puisi Taufik Ismail tentang kerinduannya akan sebuah masjid, sebuah masjid yang senantiasa hidup, sebuah masjid pembangun peradaban

 

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka

dan pendapat bila berlainan namun tanpa pertikaian

dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan yang sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang mana

tumpas aku dalam rindu

mengembara mencarinya

di manakah dia gerangan letaknya

(Taufik Ismail, Mencari Sebuah Masjid)

 

 

Orientalisme dan Ghazwul Fikr

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”

(Al Qur’an: surah At Taubah 32)

Asal Muasal Orientalisme

Dari zaman ke zaman, perseteruan antara satu peradaban dengan peradaban lain selalu terjadi. Contoh yang paling nyata dan bisa dilihat sampai saat ini adalah perseteruan Barat dan Islam. Sebagian percaya bahwa sebab utama permusuhan  di antara keduanya adalah dampak dari perang salib. Karl Heinrich Bekker, orientalis dan politikus Jerman, menyebutkan bahwa permusuhan kapitalis gereja dengan Islam mempunyai sejarah yang bermula sejak zaman kemunculan Islam. Islam kemudian semakin berkembang pada abad pertengahan dan secara gradual masuk ke negara-negara berpenduduk kristen. Gairdner juga membenarkan pernyataan Bekker ini. Dia menyatakan bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam Islam menyebabkan Eropa merasa takut dan terjadilah permusuhan antara gereja dan Islam. Barat yang selalu merasa unggul dalam segala aspek kehidupan tidak menginginkan ada peradaban lain yang mengungguli mereka terutama Islam. Oleh karenanya, berbagi macam cara disiapkan, salah satunya adalah orientalisme.

Kata “Orientalisme” dalam bahasa Arabnya adalah al istisyraaq, kata kerjanya adalah Istasyraqa. Artinya, “mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.” Para Orientalis (al Mustasyriqun) mendalami bahasa-bahasa Timur sebagai langkah untuk mengarah ke sana. Masing-masing mempelajari satu bahasa atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Ibrani, bahasa Urdu, Suryani, Indonesia, Melayu, Cina dan lain-lain. Sesudah itu mereka mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan, kesenian, adab/sastra, kepercayaan masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut di atas dan lain-lainnya. Namun bahasa Arablah yang menjadi sasaran utama dari tujuan para orientalis ini

Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiah, yang meneliti dan memperdalam masalah ketimuran. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya, berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat yang sesat dan menyesatkan (Hasanain, 1977).

Orientalis, adalah kumpulan sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur, terutama mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham yang batil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran dan dakwah Islam merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat, tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan

Menurut Hasanain (1977), tujuan orientalisme ini adalah memakai dan mempergunakan penelitian masalah ketimuran sebagai langkah untuk menyerang/memerangi Islam, menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap sumber-sumber Islam agar umat Islam berpaling dari agamanya, agar umat Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya, tetapi hanya selalu mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan apatis, melihat segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri mereka. Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari perang salib, melawan Islam, sebab sebenarnya perang salib ini belum berhenti, tetapi hanya mengambil bentuk dan warna yang berbeda.

Cara-cara Orientalis dalam Menginfiltrasi Pemikiran Islam

Barat menyadari bahwa sulit menjatuhkan Islam dengan menggunakan jalur-jalur kekerasan. Oleh karenanya digunkanlah siasat halus melalui perang pemikiran (ghazwul fikr) dan digunakanlah jasa orientalis. Orientalis berusaha menyesatkan pemahaman umat islam melalui kajian-kajian mereka yang berselubung ilmiah tetapi justru menjatuhkan keyakinan umat Islam terhadap agamanya sendiri.

Syamsuddin Arif (2008) mencontohkan salah satu metode orientalis dalam mengkaji Islam. Orientalis memiliki berbagi metodologi ynag dilakukan. Salah satunya adalah  melalui pendekatan sejarah atau biasa disebut historical approach atau kritik historis (historical critism). Maksud pendekatan ini adalah mengkaji agama secara kritis. Mereka mengatakan bahwa suatu dokumen harus dipelajari sebagimana ahli anatomi memperlakukan mayat. Yang dimaksud dokumen disini adalah sesuatu yang tertulis bukan diucapakan. Karena itu, tradisi dokumen dianggap tidak berhubungan dengan tradisi oral atau lisan. Fokus kajiannya hanya pada teks. Kajian seperti ini pertama kali diterapkan pada Bibel. Dalam kajian tersebut mereka mencari naskah aslinya lalu ditelaah dan dibuktikan kebenarannya. Armin Anas (2005) mengungkapkan, ketika diterapkan pada studi Bibel, kritik-historis melibatkan penentuan teks yang paling lama, watak kesastraannya, kondisi-kondisi yang memunculkannya, dan makna asalnya. Ketika diterapkan utuk mengkaji Yesus dan Bibel, kritis-historis melibatkan usaha untuk memisahkan legenda dan mitos dari fakta, mengkaji mengapa para penulis Bibel melaporkan dengan versi yang berbeda-beda, dan berusaha menentukan mana yang betul­-betul perkataan Yesus.

Para orientalis memaksakan metode mereka dalam mengkaji Bibel ke dalam Al Qur’an. Alphose Mingana (1927) yang dikutip Syamsuddin Arif mengatakan “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al Qur’an sebagimana yang kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”. Seruan semacam ini memang dilatarbelakangi kekecewaan orang Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan disebabkan kecemburuan mereka terhadap Al Qur’an. Bibel yang berada di tangan mereka ternyata tidak asli dan terlalu banyak campur tangan manusia. Bahkan R. Bentley, Master of Trinity College mengimbau umat Kristen agar mencampakkan kitab suci mereka yaitu naskah perjanjian baru versi paus Clement 1952.

Al Qur’an menjadi serangan utama orientalis dengan menganggapnya sebagai produk sejarah, hasil interaksi orang Arab abad ke-7 dan ke-8 dengan masyarakat sekeliling mereka. Orientalis mengatakan bahwa mushaf yang sekarang tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya, dan karenanya mereka ingin membuat edisi kritis, merestorasi teksnya dan membuat naskah baru dengan manuskrip-manuskrip yang ada. Mereka menganalogikan dengan kisah Yesus, dimana ajaran dan riwayat Yesus dibentuk secara kerygmatis dan dibangun melalui tradisi yang berkembang dalam komunitas selama 40 tahun sampai munculnya Injil Markus, sehinga sejarah Yesus yang asli nyaris tidak dapat diketahui.

Al Qur’an bukanlah produk sejarah dan anggapan bahwa Al Qur;an sebagai produk tulisan semata adalah salah. Al Qur’an pada dasarnya adalah ‘bacaan’ bukan ‘tulisan’. Proses turun-temurun dalam penyampaian wahyu dan periwayatannya dilakukan dengan ingatan dan hafalan bukan tulisan. Dari dahulu yang dimaksud dengan membaca Al Qur’an adalah membaca dari ingatan (qara’a’an zhahri qalbin). Adapun tulisan adalah sebagai penunjang semata. Proses membaca dari ingatan ini dilakukan dari generasi ke generasi dan banyak umat islam menjadi penghafal Al Qur’an. Cara ini terbukti menjamin keutuhan Al Qur’an. Berbeda dengan kasus Bibel dimana tulisannya dalam benuk papyrus, scroll, dan sebagainya yang dapat dengan mudah diotak-atik orang. Dari kesalahpahaman inilah orientalis menerapkan metode bibilical critism seperti historical critism, source critism, form critism dan textual critism ke dalam Al Qur’an padahal metode ini tidak cocok karena Al Qur’an bukan produk budaya (Armin Anas, 2005).

Metodologi yang digunakan untuk Bibel memang tepat diterapkan untuk Bibel, karena Bibel hasil karangan beberapa orang penulis. Karang­an pengarang Bibel terwarnai oleh latar belakang mereka ma­sing-masing. Jadi, sebenarnya Bibel bukanlah kitab suci sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat awam Kristen. Bibel memuat sejumlah permasa­lahan mendasar. Ketika orientalis atau Islamolog Barat mengkaji Al-Qur’an, mereka membawa metode tersebut masuk ke dalam studi AI-Qur’an. Padahal, AI-Qur’an itu bukan karangan manusia. Ia adalah tanzil, dan bukan produk budaya. Jadi, metodologi para orientalis tidak tepat diaplikasikan ke dalam metodologi AI-Qur’an.

Dampak di Indonesia

            Meskipun sudah diketahui kelemahannya, metodologi yang digunakan orientalis justru disambut baik sebagian pakar islam. Syamsuddin Arif (2008) mengatakan studi yang dilakukan orientalis memang memiliki keunggulan, yakni terletak pada budaya kritis mereka. Budaya kritis ini menimbulkan gairah sehingga ada dinamika. Tapi, budaya kritis itu sebenarnya sudah ada dalam tradisi intelektual muslim. Bahkan sudah berlangsung lama. Tradisi kritis itu misalnya kalau ada ulama yang menulis buku selalu ada yang mensyarah, menulis komentar, menjelaskan, atau menjabarkan. Selain itu ada pula yang menyanggah (ra’ad). Sayangnya tradisi ini sudah berkurang.

Adian Husaini (2005) mengutip Majalah GATRA edisi 3 April 2004 yang menurunkan laporan cukup panjang tentang fenomena kajian hermeneutika di kalangan perguruan Islam di Indonesia. Disebutkan, dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Islam Negeri Jakarta dan IAIN (sekarang UIN) Yogyakarta sudah mengajarkan mata kuliah Hermenutika untuk mahasiswanya. Pada dasarnya, hermeneutika adalah metode tafsir Bibel, yang kemudian dikembangkan oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode interpretasi teks secara umum. Metode hermeneutika tidak jauh beda denagn bibilical critism. Oleh sebagian cendekiawan Muslim, kemudian metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai alternatif dari metode pemahaman Al Qur’an yang dikenal sebagai ilmu tafsir. Jika metode atau cara pemahaman Al Qur’an sudah mengikuti metode kaum Yahudi dan Nasrani dalam memahami Bibel, maka patut dipertanyakan, bagaimanakah masa depan kaum muslim di Indonesia?

Di antara implikasinya, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari manapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai lingkaran hermeneutis, dimana makna senantiasa berubah. Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi (textual corruption and scribal errors). Tetapi tidak untuk Al Qur’an yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman.

Hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks tertentu. Selain mengaburkan danmenolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan mufassir-mufassir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali. Dampak penggunaan metode hermeneutika terhadap pemikiran Islam sudah sangat mencolok di Indonesia. Misalnya, pemikiran tentang tidak boleh adanya truth claim (klaim kebenaran) dari satu agama tertentu. Contoh kelompok yang sering mendengung-dengungkannya adalah Jaringan Islam liberal (JIL).

Metode dan pemikiran-pemikiran yang nyleneh tersebut justru bersal dari UIN yang menjadi ujung tombak pendidikan Islam. Salah satu contoh riil yang dikemukakan Adian Husaini (2007) adalah pada Jurnal JUSTISIA Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25 tahun XI 2004. Sampul jurnal ini memuat tulisan yang membuat mata membelalak: “Indahnya Kawin Sesama Jenis”, dengan latar belakang gambar orang-orang gay sedang berpose.

Jika ditinjau ke belakang pemikiran tersebut tidak smata-mata muncul tetapi sudh ada upaya sistematis di belakangnya. Menurut Harono Ahmad Jaiz (2005) dalam bukunya yang berjudul ‘Ada Pemurtadan di IAIN’, ada kesalahan dalam sistem pendidikan di IAN. Karena system itu tampaknya diadopsi oleh Harun Nasution dan Mukti Ali (para petinggi di IAIN dan Departemen Agama masa lalu) dari orientalis Barat, sedang para dosen pengajarnya pun sebagian banyak asuhan orientalis di universitas-universitas Barat. Tambahan lagi, ketika kesalahan sistem itu didomplengi kepentingan-kepentingan yang arahnya justru menyamakan semua agama atau pluralisme agama.

Penutup

            “Kenali musuhmu!” adalah motto sekaligus senjata orientalis dan missionaris Yahudi dan Kristen di balik semua kegigihan dan kegiatan mereka dalam mengkaji Islam dan seluk-beluknya dari segala aspek. Adalah naif bagi kita sebagai umat Islam bersangka baik kepada umat yang tidak pernah ridha terhadap kita dan senantiasa memusuhi kita. Adalah tidak bijak jika kalau kita menelan mentah-mentah apa yang merka katakan dan mereka tuliskan. Umat islam jangan menjadi umat yang inferior terhadap kemajuan Barat saat ini, karena sesungguhnya umat Islam adalah umat yang diberkati Allah SWT. Umat Islam harus yakin dengan agama mereka sendiri dan tidak perlu mencontoh Barat dalam pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam.

*Penulis, Mahasiswa Pendidikan Geografi 2007

Ditulis untuk memenuhi tugas MT 3 LPIM UNY

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Syamsuddin.2005. Jurnal Al Insan: Al Qur’an dan Serangan Orientalis. Jakarta: Gema Insani Press

Arif, Syamsuddin.2008. Majalah Hidayatullah: Menyerang Orientalis dari Sarangnya. Jakarta:Hidayatullah

Armas, Adnin.2005.Metodologi Bibel dalam Studi Al Qur’an. Jakarta:Gema Insani Press

Hasanain, Abdul.1977. Orientalisme. Jakarta:LPPA

Husaini, Adian. 2007. Nasib Studi Islam di Perguruan Tinggi. (http://www.hidayatullah.com)

Jaiz, Hartono Ahmad. 2005. Ada Pemurtadan di IAIN. Jakarta:Pustaka al Kautsar

Salam

tes 1, 2, 3

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Madinatunnajah Kota Cirebon

This WordPress.com site is the bee's knees

Scripta Manent, Verba Volant

"Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap, bersama hembusan angin"

diarydiar

bahagiakan hati dengan berbagi

U1needth's Blog

dari pendidikan untuk perbaikan (from tarbiyah for ishlah)

DWI BUDIYANTO

learning, leading, serving

catatan peradaban

meraih ridha Illahi...

Iftihatinjannah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Inspirasi

Kebaikan dalam Kesederhanaan